16 Januari 1984: Sunda dan Indonesia

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Selasa, 16 Januari 2024 | 08:26 WIB
Ajip Rosidi (alm) (Tembi Rumah Budaya)
Ajip Rosidi (alm) (Tembi Rumah Budaya)

Sosok tenar dalam sastra Indonesia itu kadang menulis dalam bahasa Sunda.

Penghargaan untuk sastra Sunda pun diselenggarakan dengan misi-misi besar.

Surat tak cuma mengabarkan kesungguhan menulis buku berjudul Manusia Sunda.

Ajip Rosidi membuka percakapan bertema modernisasi. Pada masa 1980-an, modernisasi itu istilah terpenting bagi rezim Orde Baru.

Baca Juga: Doctor Strange Muncul di Sphere Las Vegas, Bocorkan Inovasi Galaxy AI dari Samsung

Di sekolah dan kampus, modernisasi sering mendapat penjelasan sampai usang. Modernisasi justru sekadar slogan.

Di desa, modernisasi pun dibicarakan tapi membingungan penduduk. Indonesia masa 1980-an, negara dilanda ilusi pembangunan. Indonesia dimabuk modernisasi.

Ajip Rosidi menjelaskan: “… rencana-rencana modernisasi (atau pembangunan) di Indonesia dibuat oleh para sarjana yang tidak mengetahui tentang tradisi. Mungkin secara teoritis mereka tahu akan pentingnya tradisi, tetapi pengetahuan mereka tentang nilai-nilai tradisi sangat sedikit. Padahal, sebagian besar rakyat Indonesia dalam alam pikiran tersebut. Hal itu juga tampak dalam cara mereka menafsirkan berbagai instruksi dari atasan.”

Baca Juga: Sumbu Kosmologis Yogyakarta, Konsep Tata Ruang Kota Gudeg yang Sarat Makna

Di Jepang, Ajip Rosidi tetap berpikir Indonesia sambil merampungkan buku bertema Sunda.

Kita membandingkan masalah modernisasi atau pembangunan dengan tulisan-tulisan Soedjatmoko.

Ia mengetahui situasi dunia. Dulu, ia pernah berkantor di Jepang. Di pelbagai negara, Soedjatmoko terus memikirkan Indonesia.

Soedjatmoko (1983) menerangkan: “Lingkungan desa tidak lagi dapat memberi jaminan hidup yang cukup dan suasana kehidupan ini dirasakan sebagai kungkungan. Akibatnya ialah runtuhnya susunan sosial yang lama, pemboyongan ke kota-kota, keinginan para petani untuk mencoba-coba cara yang baru, atau untuk bertindak sendiri memperbaiki nasibnya….”

Baca Juga: Terapkan Empat Prinsip Ini dalam Hidup, Maka Anda Bisa Lebih Berbahagia

Di situ, kita membaca masalah tradisi dan kemungkinan-kemungkinan modernisasi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X