Sosok tenar dalam sastra Indonesia itu kadang menulis dalam bahasa Sunda.
Penghargaan untuk sastra Sunda pun diselenggarakan dengan misi-misi besar.
Surat tak cuma mengabarkan kesungguhan menulis buku berjudul Manusia Sunda.
Ajip Rosidi membuka percakapan bertema modernisasi. Pada masa 1980-an, modernisasi itu istilah terpenting bagi rezim Orde Baru.
Baca Juga: Doctor Strange Muncul di Sphere Las Vegas, Bocorkan Inovasi Galaxy AI dari Samsung
Di sekolah dan kampus, modernisasi sering mendapat penjelasan sampai usang. Modernisasi justru sekadar slogan.
Di desa, modernisasi pun dibicarakan tapi membingungan penduduk. Indonesia masa 1980-an, negara dilanda ilusi pembangunan. Indonesia dimabuk modernisasi.
Ajip Rosidi menjelaskan: “… rencana-rencana modernisasi (atau pembangunan) di Indonesia dibuat oleh para sarjana yang tidak mengetahui tentang tradisi. Mungkin secara teoritis mereka tahu akan pentingnya tradisi, tetapi pengetahuan mereka tentang nilai-nilai tradisi sangat sedikit. Padahal, sebagian besar rakyat Indonesia dalam alam pikiran tersebut. Hal itu juga tampak dalam cara mereka menafsirkan berbagai instruksi dari atasan.”
Baca Juga: Sumbu Kosmologis Yogyakarta, Konsep Tata Ruang Kota Gudeg yang Sarat Makna
Di Jepang, Ajip Rosidi tetap berpikir Indonesia sambil merampungkan buku bertema Sunda.
Kita membandingkan masalah modernisasi atau pembangunan dengan tulisan-tulisan Soedjatmoko.
Ia mengetahui situasi dunia. Dulu, ia pernah berkantor di Jepang. Di pelbagai negara, Soedjatmoko terus memikirkan Indonesia.
Soedjatmoko (1983) menerangkan: “Lingkungan desa tidak lagi dapat memberi jaminan hidup yang cukup dan suasana kehidupan ini dirasakan sebagai kungkungan. Akibatnya ialah runtuhnya susunan sosial yang lama, pemboyongan ke kota-kota, keinginan para petani untuk mencoba-coba cara yang baru, atau untuk bertindak sendiri memperbaiki nasibnya….”
Baca Juga: Terapkan Empat Prinsip Ini dalam Hidup, Maka Anda Bisa Lebih Berbahagia
Di situ, kita membaca masalah tradisi dan kemungkinan-kemungkinan modernisasi.
Artikel Terkait
15 Januari 1992: Kematian, Uang, Lukisan
Mengenal Rosa Luxemberg, Aktivis Sosial Anti Perang
Sumbu Kosmologis Yogyakarta, Konsep Tata Ruang Kota Gudeg yang Sarat Makna