16 Januari 1984: Sunda dan Indonesia

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Selasa, 16 Januari 2024 | 08:26 WIB
Ajip Rosidi (alm) (Tembi Rumah Budaya)
Ajip Rosidi (alm) (Tembi Rumah Budaya)

TINEMU.COM - Pada masa Orde Baru, gagasan tentang manusia Indonesia dibuat ramai oleh Mochtar Lubis.

Ia berpidato di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Masa 1970-an menjadi masa menentukan untuk mengerti mutu manusia Indonesia.

Mochtar Lubis memberi ceramah dan membarakan debat. Teks ceramah itu terbit: teringat sebagai buku berpengaruh di Indonesia di babak awal Orde Baru.

Sodoran ciri-ciri manusia Indonesia menular ke pihak-pihak menjelaskan manusia berdasarkan latar sosial-kultural atau adat.

Marbangun H mengajukan buku berjudul Manusia Jawa. Pada episode berbeda, orang-orang membaca buku berjudul Manusia Sunda susunan Ajip Rosidi.

Baca Juga: Dalam Sehari Ada 3 Kecelakaan di Perlintasan Sebidang, Ini Imbauan KAI

Dulu, ada satu lagi buku mengesankan serial berjudul Manusia Bugis.

“Selama liburan musim dingin, saya menulis tentang Manusia Sunda, tetapi belum selesai betul,” tulis Ajip Rosidi.

Kabar terdapat dalam surat: Osaka, 16 Januari 1984. Surat untuk Arifin C Noer berada di Indonesia.

Keterangan lanjutan: “Baru kurang lebih 100 halaman, masih kurang lebih 30-40 halaman lagi yang saya tulis.”

Di situ, Ajip Rosidi tak memberi tanggapan atas penerbitan Manusia Indonesia dan Manusia Jawa.

Pada masa berbeda, Ajip Rosidi tak sekadar membuat buku Manusia Sunda. Ia malah mengadakan kerja besar dengan mewujudkan ensiklopedia Sunda.

Baca Juga: Evakuasi KA Pandalungan Selesai, Jalur di Stasiun Tanggulangin Dapat Dilewati Kereta Api

Ia tampil sebagai sosok bertanggung jawab dalam mengadakan bacaan-bacaan bertema Sunda.

Dulu, ia berperan menjadi penerjemah teks-teks sastra Sunda. Ajip Rosidi biasa menulis esai-esai bertema Sunda.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X