TINEMU.COM- Era 1980-an musik hard rock dan heavy metal melanda pula Negeri Sakura, Jepang. ANTHEM dan LOUDNESS yang terbentuk di pertengahan 1980-an mungkin adalah semacam delegasi pembawa aliran musik varian rock tersebut baik di negara mereka sendiri maupun internasional. Uniknya jika mendengarkan kedua band ini sama sekali tak ada unsur Jepang-kecuali asal negara band ini terbentuk. Mereka tetap membawa unsur khas musik populer Barat itu. Lirik bahasa Inggris yang dinyanyikan Masaki Yamada,Minoru Nihara (Loudness),Yukio Morikawa (Anthem) sesekali tidak fasih-bahkan masih sangat kental logat Jepangnya.
Di era tersebut ada KUNI, band yang menggunakan nama orang- leadernya sebagai nama band-mirip seperti Winger dari nama Kip Winger atau Bon Jovi dari nama Jon Bon Jovi. KUNI adalah nama gitaris Jepang pendiri band ini yang uniknya anggota personil lainnya sudah menjadi bintang rock terkemuka. Sebut saja Jeff Scott Soto-vokalis yang ia rekrut (album Looking for Action) setelah Soto konser sebagai vokalis Yngwie Malmsteen band. Kemudian ada Billy Sheehan (yang kini kita tahu dari MR.BIG),Kevin Dubrow-Frankie Bannali-Chuck Wright (Quiet Riot), John Purdell (Heart), dan Neil Turbin (vokalis Anthrax sebelum Joey Belladonna). Kemudian saat manggung ia pernah menggaet Mike Terrana (dramer Yngwie Malmsteen, Steve Lukather, Tony MacAlpine).
Yang menjadi nilai jual, tak ada keterangan pasti mengapa gitaris bernama lengkap Kuni Takeuchi mampu merekrut para musisi Amerika itu. Tiada keterangan juga apakah dengan merekrut para rocker Barat tersebut apakah KUNI hanya menyiapkan aransemen musiknya yang sudah jadi atau workshop bersama-sama menulis lagu. Dan dengan merekrut para musisi yang kebanyakan dari Amerika Serikat, album KUNI otomatis bisa diedarkan internasional lewat label Polydor.
Baca Juga: 'The Seventh One' dan 'Fahrenheit', Dua Album Terbaik TOTO
Di era 1980-an KUNI hanya menelurkan dua album, yaitu Masque (1986) dan Looking for Action (1988) yang sarat dengan nomor hard rock heavy metal yang melodius. Hingga kini kedua album tersebut akhirnya cetak ulang, sehingga bisa diperdengarkan kembali dengan kualitas sound lebih baik dibandingkan saat album ini diirlis pertama kali di label Polydor.
Meski sudah memakai musisi pendamping skala internasional, KUNI kalah pamor jika dibandingkan dengan ANTHEM atau LOUDNESS karena sebagai musisi KUNI tidak produktif. Baru pada tahun 2000 ia muncul lagi dengan album Fucked Up! kiprahnya seperti tersingkirkan. Bandingkan dengan LOUDNESS dan ANTHEM yang hampir setahun sekali merilis satu album penuh.
Menyimak kedua album KUNI lewat lagu-lagu yang syairnya ditulis Neil Turbin (album Masque-dan suaranya agak mirip-mirip Banhasir-vokalis band Kaisar dari Solo) terasa sekali pada lagu-lagu seperti When We Rock It,Love Taker,East Meets West jika dibandingkan dengan LOUDNESS atau ANTHEM, terdengar lebih kalem-karena berpijak pada melodic heavy metal. Keputusannya merekrut musisi daratan Amerika Serikat hingga kini menjadi nilai jual tersendiri-terutama bagi yang mengenal nama-nama tersebut di wilayah musik rock Barat. Selain itu, menyimak KUNI publik jadi tahu rekam jejak grup besar seperti Quiet Riot, MR.BIG, atau Anthrax misalnya-sebelum memutuskan jadi thrash metal.
Baca Juga: 'Thunder', Sisi Lain Gitaris Duran Duran
Masque dan Looking for Action justru lebih menarik didengarkan sekarang karena jadi terasa vintage, oldschool, bahkan classy-padahal memang dirilis tahun 1986-1988. Bukan seperti musisi zaman sekarang yang memang memainkan lagu dengan gaya lama. Mendengar KUNI sekarang bak menemukan mutiara terpendam sekaligus penghormatan kepada classic rock yang di Jepang sendiri masih cukup banyak penggemarnya.**