TINEMU.COM - Di antara banyak grup rock/metal, ada satu nama yang cenderung terlewat meski perjalanan kariernya sangat panjang. Mereka adalah RIOT yang kini menambahkan “V” di belakang nama band yang sudah eksis sejak 1975.
Mengenai kiprahnya yang sering terlewat, wajar saja karena RIOT sempat berganti format musik dari hard rock (1977-1983) ke speed metal (1988-sekarang), selain publik di Indonesia (juga dunia) kerap keliru menyebutnya dengan nama band rock lain, misalnya Quiet Riot.
Satu hal lain lagi yang membuat nama mereka kurang mencuat adalah terlalu seringnya gonta ganti personil, di samping lagu-lagu mereka di awal karier tidak memiliki ciri khas tertentu. Nyaris sama dengan band hard rock kebanyakan yang kala itu didominasi bad-band rock asal Inggris seperti Led Zeppelin, Deep Purple, Iron Maiden juga AC/DC dari Australia.
Baca Juga: HAUS! Siap Kembangkan Bisnis di Platform Metaverse
Terbentuk di New York 1975, RIOT identik dengan gitaris dan pendirinya, Mark Reale yang wafat 2012 karena penyakit kanker usus. Di awal kemunculannya era 1970-an RIOT tak ubahnya grup hard rock/heavy metal lain yang wara-wiri di jagad musik macam Black Sabbath, AC/DC, Deep Purple, Kiss, Aerosmith atau Led Zeppelin sehingga posisinya sekedar mengisi “gerbong” kereta musik rock yang kelewat sesak dengan band-band supergrup dari daratan Inggris.
Karena di era tersebut musik rock sedang dilanda keemasan grup rock asal Inggris (The Beatles/Rolling Stones/Deep Purple/Zeppelin/Yes/Genesis), RIOT disiapkan label rekaman Capitol plus bantuan pengamat/ jurnalis musik di Amerika guna menyaingi popularitas jagat rock kala itu yang didominasi grup Inggris.
RIOT lahir bersama andalan band classic rock AS: Aerosmith, Montrose (band Sammy Hagar sebelum solo karier dan bergabung ke Van Halen), Starcastle (epigon Yes), dan Kiss. Dan seperti kita ketahui bersama hingga abad 21 prediksi Capitol untuk melejitkan RIOT cukup beralasan.
Baca Juga: Saksikan Hujan Meteor di Akhir Juli 2022
Aerosmith, Sammy Hagar, dan Kiss berhasil menjadi saingan Inggris dalam industri musik rock. Belum upaya mereka sendiri melejitkan band negeri Kanguru, AC/DC di skena heavy metal, juga Amerika pelan-pelan membuat skena baru yang dinamai “Southern Rock” dan hanya ada di sana dengan musisi andalan macam Bruce Sprinsteen,Lynyrd Skynyrd,dll selain berhasil melejitkan era “hair band/glam metal” ala Motley Crue, Poison, GN’R dan AOR (Adult Oriented Rock) ala Boston, Reo Speedwagon, Toto, dan Survivor.
Hasilnya memang tak mengecewakan; album RIOT yang dirilis label besar (Capitol, Elektra, CBS/Sony Music) membuatnya sepangung dengan AC/DC, Sammy Hagar, Survivor, Black Sabbath, Kiss, dan Rush.
Namun prestasi tersebut belum bisa dibilang spektatuler lantaran masih tetap saja tergilas dengan pamor grup asal Inggris. Mark Reale di awal kariernya sebelum membentuk RIOT pernah bergabung sebagai additional player di Montrose, Rick Derringer, dan Edgar Winter.
Baca Juga: Review The Godfather : Melihat Mafia Dari Dalam
Dengan formasi awal Peter Bitelli (dram), Phil Feit (bas) vokalis Guy Speranza, Reale meniti kariernya sebagai rockstar. Resiko gonta ganti personil tak terhindarkan. Untuk posisi vokalis saja tercatat sudah tujuh kali berganti!**
Artikel Terkait
Cerita Pendek: Mariam Mengasah Pisau
Terong Tidak Pernah Berbohong
Waluh yang Tidak Pernah Mengeluh
Ketika Hasan dan Tardji Membaca Jejak Chairil di Sastra Reboan