Ketika Hasan dan Tardji Membaca Jejak Chairil di Sastra Reboan

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Kamis, 14 Juli 2022 | 10:43 WIB
foto tangkap layar dari FB
foto tangkap layar dari FB

TINEMU.COM – “Kalau mata kanan sastra Indonesia Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri mata kirinya.”. Demikian ungkap Hasan Aspahani menyitir kata-kata Dami N. Toda dalam acara bincang santai Membaca Jejak Chairil di panggung Sastra Reboan yang digelar di PDS HB Jassin Jakarta, Rabu 13 Juli 2022.

Acara bincang membaca Jejak Chairil dipandu Jodhi Yudono, menghadirkan juga presiden penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri.

“Dengan dua mata yang sempurna, mata kanan dan kiri, Hasan Aspahani merasa bisa lebih dalam dan detail menjelajahi peta sastra Indonesia. Mendaki gunungnya, menyisir lembah dan seluruh daratan dan lautnya.

Meski demikian tetap saja jejak-jejak itu belum sepenuhnya terlacak, dan masih banyak menyisakan misteri.” lanjut Hasan Aspahani.

Di sisi lain Sutardji Calzoum Bachri mengatakan; "Chairil itu mewujudkan pemikiran STA, yaitu puisi yang berorientasi pada semangat budaya Barat, terutama modernisme dan individualisme. Pada masa Takdir bangsa ini memang mencari arah kemana orientasi budaya kita. Itulah yang terjadi dalam polemik kebudayaan."

Baca Juga: Almanak dan Nostalgia

Acara perdana Sastra Reboan sore itu hadir di PDS HB Jassin yang kini menempati sebuah gedung panjang nan megah, di lantai 4 dan 5 yang baru saja diresmikan.  

Membaca tentang Tardji sendiri, mengutip Nurel Javissyarqi dalam blognya dia menyatakan;

“Upaya dan perjuangan Sutardji Calzoum Bachri menerobos makna kata, menerobos jenis kata, menerobos bentuk kata, dan menerobos tata bahasa dapat dipandang sebagai percobaan melakukan dekonstruksi bahasa Indonesia secara besar-besaran dan memberi kemungkinan bagi konstruksi-konstruksi baru yang lebih otentik melalui puisi.”

“Dalam sebuah esainya Sutardji menulis “puisi adalah alibi kata-kata”. Dengan ungkapan itu dimaksudkan bahwa kata-kata dalam puisi diberi kesempatan menghindar dari tanggung jawab terhadap makna, yang dalam pemakaian bahasa sehari-hari dilekatkan pada sebuah kata sebagai tanggungan kata tersebut.”

Baca Juga: The Good, The Bad and The Ugly, Masuk Film Barat Terbaik Sepanjang Masa

Sementara itu membaca lebih jauh dan dalam tentang Chairil, simak apa yang ditulis Hasan Aspahani di matapuisi saat ia merasa telah mendapatkan dua mata yang sempurna.

1. Mendurhaka pada Kata
Sekarang: Hoppla! Lompatan yang sejauhnya, penuh kedara-remajaan bagi Negara remaja ini. Sesudah masa mendurhaka pada Kata, kita lupa bahwa Kata adalah yang menjalar mengurat, hidup dari masa ke masa, terisi padu dengan penghargaan, Mimpi, Pengharapan, Cinta dan dendam manusia.

Kata ialah Kebenaran!!! Bahwa kata tak membudak pada dua majikan, bahwa kata ialah These sendiri!!!

– Chairil Anwar dalam “Hoppla”, dalam Pembangunan, No. 1, Thn. I, 10 Desember 1945)

2. Perintis Jalan
Tiap seniman harus seorang perintis jalan, adik. Penuh keberanian, tenaga hidup. Tidak segan memasuki hutan rimba penuh binatang-binatang buas, mengarungi lautan lebar-tak-bertepi, seniman adalah dari hidup yang melepas-bebas.

Jangan pula menceraikan diri dari penghidupan, bersendiri!

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X