TINEMU.COM - Pada 12 Juni 2022, pedagang buku bekas di Solo mengunggah foto setumpuk buku di media sosial. Tujuh buku berukuran tampak sama. Ketebalan pun hampir sama.
Keterangan dibuat pedagang bernama Enthis: Almanak Dewi Sri, paket 7 buku, 200 ribu. Ada pula foto sampul buku mengingatkan selera rupa masa lalu: tokoh wayang dan perempuan.
Almanak Dewi Sri diterbitkan masa 1970-an dan 1980-an. Sekian hari berlalu, dagangan mungkin (belum) laku.
Dulu, buku sejenis itu laris. Sejak awal abad XX, Balai Pustaka dan penerbit-penerbit partikelir sering menerbitkan almanak umum dan almanak tematik. Buku berukuran waktu setahun atau sekian tahun memuat beragam pengetahuan.
Baca Juga: The Good, The Bad and The Ugly, Masuk Film Barat Terbaik Sepanjang Masa
Para pembaca diuntungkan dengan mengoleksi dan membaca almanak (tahunan). Mereka bisa mengetahui masalah pendidikan, perdagangan, pertanian, agama, politik, hiburan, dan lain-lain.
Tahun demi tahun, almanak-almanak dari pelbagai penerbit ingin tampil memikat dan menjadi idaman para pembaca. Tata cara membuat almanak dan kemasan pun diperhitungkan saksama untuk persaingan sengit di pasar buku.
Pada masa Orde Baru, penerbitan almanak masih dilakukan sekian penerbit meski tak semeriah masa lalu. Siasat publik mencari pengetahuan telah berubah.
Almanak mulai dipandang sebagai warisan atau sisa dari masa lalu. Almanak sekadar nostalgia bagi orang-orang mengalami zaman membutuhkan petunjuk, pedoman, atau peringatan.
Baca Juga: Ingin Hadiah Liburan ke Asia/Eropa? Ikuti ISC Speech Contest
Dulu, almanak sering berupa buku kecil dan agak tebal. Penerbit-penerbit memperhitungkan agar harga terjangkau oleh para pembaca. Almanak-almanak sering menjadi koleksi keluarga, disimpan di lemari tampak rapi atau menumpuk di meja berdalih sering dibaca.
Almanak Dewi Sri termasuk laris di pasar buku. Almanak diterbitkan UP Indonesia. Orang-orang mengingat sosok penting dalam perkembangan penerbit UP Indonesia dan redaksi pembuatan almanak: Karkono Partokusumo (Kamajaya).
Nama tenar sejak masa 1950-an dengan beragam buku dan keseriusan mengelola penerbitan beralamat di Jogjakarta. UP Indonesia turut dalam deru revolusi dan memajukan Indonesia dengan buku-buku, berlanjut mengiringi impian-impian Orde Baru.
Di Bilik Literasi (Solo), ada puluhan almanak terbitan sejak masa kolonial. Ada pula sekian Almanak Dewi Sri. Koleksi nostalgia untuk mengerti ikhtiar orang-orang masa lalu berpengetahuan.
Baca Juga: Izin Pesantren Shiddiqiyah yang Sempat Dicabut Telah Dipulihkan, Ini Alasannya
Artikel Terkait
Novel: "Untung" dan Penolakan
Chairil Anwar: Kematian di Horison dan Kelahiran di Intisari
Penulisan Seni: Terbit dan Terkait
The Good, The Bad and The Ugly, Masuk Film Barat Terbaik Sepanjang Masa