TINEMU.COM - Pada hari tak tercatat nama, Durjana membeli buku. Pada waktu tak teringat tanggal, Durjana gagal khatam buku.
Nama penggubah novel sudah diketahui sejak SMA. Selasih, nama lembut dan menenangkan. Dulu, Durjana cuma mengetahui nama dan judul novel. Di perpustakaan, novel itu ada tapi Durjana belum terpanggil untuk meminjam dan membaca. Ia masih remaja belum ingin terbujuk lakon asmara lama.
Selasih, pengarang dari masa lalu. Durjana sedang salah pilih (membaca) novel-novel saat masih murid SMA, abai dengan Selasih mempersembahkan Kalau Tak Untung.
Pada saat menua dan hidup amburadul dengan beragam salah-dosa, Durjana ingin menikmati warisan Selasih. Ia berhasil membeli novel berjudul Kalau Tak Untung terbitan Balai Pustaka, 1956, cetakan kelima.
Baca Juga: Terong Tidak Pernah Berbohong
Gambar di sampul: rumah, sawah, pohon kelapa, dan awan. Pemandangan indah tapi sulit banget selaras dengan judul menggunakan “tak”. Durjana ingin menghapus “tak” agar judul novel berubah: Kalau Untung.
Buku pernah dikoleksi Sekolah Guru B (PGRI) di Solo. Buku dalam kondisi agak rusak. Dulu, buku mungkin sering dipinjam dan dibuka oleh para pembaca tergoda asmara berairmata.
Novel mengisahkan keluarga, pendidikan, situasi sosial-kultural, asmara, adat, pekerjaan, dan lain-lain. Durjana membaca pelan-pelan, mengaku terlambat menikmati kesilaman. Hidup ditanggungkan Durjana sedang merugi saat membaca Kalau Tak Untung.
“Tiap-tiap orang bertanja kedirinja sendiri, apakah sebab….” Kalimat terakhir terbaca Durjana. Kalimat tak rampung. Oh, novel itu kehilangan puluhan halaman. Kalimat dikutip berasal dari halaman 110. Durjana kecewa tak mendapatkan halaman-halaman lanjutan.
Puluhan halaman hilang mungkin saat novel ada di penampungan rongsokan atau sejak di perpustakaan Sekolah Guru B. Durjana ingat buku itu dibeli dengan harga murah. Buku tak utuh, lumrah. Durjana menjadi pembaca “tak untung”. Gagal khatam tanpa perlu berairmata.
Baca Juga: Mulai 17 Juli 2022, Pelanggan KA Jarak Jauh yang Belum Divaksin Booster Wajib Screening Covid-19
Durjana masih untung saat menemukan sisipan di majalah Gatra, 17 Desember 1994. Tulisan panjang berjudul: “Selasih: Pengarang dengan Sejumlah Nama.” Perkenalan makin bertambah setelah dulu mencukupkan membaca dalam leksikon dan ensiklopedi sastra.
Pada masa lalu, Sari Amin atau Selasih tekun sebagai pengarang, wartawan, penggerak organisasi, dan guru. Orang-orang memuji dan terkejut setelah ia tampil di panggung sastra dengan novel berjudul Kalau Tak Untung (1933). Semula, para pengarang novel di Indonesia sering laki-laki.
Selasih menulis puisi, novel, dan naskah sandiwara. Durjana kagum saja dengan masa lalu pengarang masih dikenang. Pengakuan Selasih: “Sibuk ke sana kemari memerlukan uang. Gajiku tidak cukup lagi. Lantas aku memberanikan diri menulis roman untuk Balai Pustaka. Roman pertamaku kukirim, 1932, berjudul Kalau Tak Untung dengan nama Selasih. Enam bulan lamanya aku menyelesaikan kisah jodoh tidak kesampaian itu. Setahun kemudian, buku itu diterbitkan Balai Pustaka. Aku diberi honor cukup besar: f 500. Beras waktu itu f 2.50 sepikul.”
Baca Juga: Film Pathaan: Tontonan Visual yang Belum Pernah Dilihat Siapapun Sebelumnya?
Artikel Terkait
Teringat (Sedikit) Saja: Penerbit dan Buku Pelajaran
Majalah Adil dan Alfatch, Dari Rebutan, Kehabisan, dan Bahasa
Minum Jamu dan Membaca Buku
12 Angry Men (1957), Film Hitam Putih Terbaik Bertema Persidangan