TINEMU.COM - Para (delegasi) tamu asing berdatangan ke Solo. Mereka sedang mengikuti beragam acara G20 (2022). Kedatangan di tempat acara, hotel di Solo, dan kunjungan ke kabupaten-kabupaten sekitar mendapat suguhan jamu. Mereka diajak minum jamu.
Keterangan tentang pelbagai tanaman dan khasiat diberikan secara singkat menggunakan bahasa Inggris atau bahasa asing. Konon, suguhan jamu itu ingin mengabarkan minuman khas Nusantara.
Ada misi meminta pengakuan dan pengharapan perdagangan jamu bakal mencapai ke pelbagai negara. Kita menduga tak sempat ada arahan membaca buku atau mengenali tokoh-tokoh dalam industri jamu di Indonesia.
Baca Juga: Sandiaga Uno Dorong Potensi Desa Wisata Warisan Leluhur Bugisan, Ciptakan Lapangan Kerja
Dulu, jamu menjadi tema untuk sisipan di Prisma dan Tempo. Tulisan-tulisan panjang membuka sejarah dan berbagi informasi mengenai jamu. Biografi para perintis atau pengusaha dimunculkan dengan merek-merek terkenal. Sekian industri jamu bertumbuh besar di Jawa Tengah.
Kehadiran masalah jamu di Prisma dan Tempo melengkapi ratusan iklan jamu dimuat di majalah dan koran di Indonesia, dari masa ke masa. Dulu, para pembaca majalah-majalah masa 1950-an dan 1960-an terbiasa menemukan iklan-iklan jamu pelbagai merek.
Iklan-iklan khas dalam sajian kata dan gambar. Orang-orang mengingat penamaan jamu sering unik. Dan keberlimpahan iklan mengartikan bisnis jamu menghasilkan untung besar.
Di Indonesia, penerbitan buku-buku bertema jamu sudah puluhan. Buku-buku sering informatif ketimbang naratif. Buku-buku biasa memuat pengulangan isi.
Baca Juga: Menakar Pemekaran Wilayah Papua sebagai Resolusi Konflik
Kita masih jarang menikmati buku-buku memuat biografi atau pasang-surut perusahaan jamu. Di majalah Kartini, 7-21 Maret 2002, berita peluncuran buku. berita dua halaman dengan foto-foto. Tulisan itu berjudul “Peluncuran Buku Nyonya Meneer”.
Acara mewah dan bersejarah. Kita mengutip: “Lebih dari 500 orang tamu memenuhi Golden Ballroom Hotel Hilton Jakarta. Mulai dari menteri, mantan menteri, pejabat, duta besar, pengusaha, artis, budayawan, sampai Sinuhun Paku Buwono XII, hadir dalam acara peluncuran buku Perjalanan Panjang Usaha Nyonya Meneer. Acara yang dikemas manis pada malam 20-02-2002 itu dilengkapi dengan bedah buku oleh Kafi Kurnia, diselingi suara emas Andi Meriam Matalata, Erni Johan, dan Sundari Soekotjo.”
Acara bercitarasa nostalgia. Tembang-tembang lawas memberi kesempurnaan ingatan atas merek lawas.
Puluhan tahun, orang-orang mengenali jamu dari Semarang. Dulu, penulisan merek moncer: “Tjap Portret Njonja Meneer.” Pada masa berbeda penulisan berubah, mengikuti kaidah bahasa baku dan ejaan disempurnakan.
Baca Juga: Menguak yang Tersembunyi Dalam Sains
Acara mewah untuk buku di Jakarta memberi pesan: “Buku ini akan menjadi cermin ketegaran bagi upaya yang jatuh-bangun dilanda prahara. Namun, tetap bertahan menata pengembangan dan kemajuan.”
Artikel Terkait
Kamus dan “Kemadjoean” Budi Utomo dan Muhammadiyah
Tiga Serangkai: Nama, Logo, Alamat
Teringat (Sedikit) Saja: Penerbit dan Buku Pelajaran
Majalah Adil dan Alfatch, Dari Rebutan, Kehabisan, dan Bahasa