TINEMU.COM - Majalah-majalah terbit di Indonesia mengartikan gairah sebaran berita dan pengetahuan. Majalah berisi iklan-iklan majalah itu lumrah. Konon, para penerbit surat kabar atau majalah memang berkepentingan saling menguatkan dan membesarkan.
Godaan laba besar dalam bisnis pers digenapi kemauan mengadakan bacaan di hadapan sidang pembaca. Mereka ingin ada suguhan bermutu bagi para pembaca di Indonesia.
Dulu, orang-orang mengingat Soetomo dan Boedi Oetomo (1908). Sosok penggerak Indonesia dan dokter itu terus memberi persembahan-persembahan sampai masa 1930-an. Ia sudah moncer di pergerakan politik, pendidikan, dan kesehatan. Ia pun berurusan dengan pers dan penerbitan bacaan.
Kita mengenang warisan terpenting itu Panjebar Semangat. Pada 2022, majalah Panjebar Semangat mula-mula dipicu misi besar Soetomo masih terbit. Kita bermufakat bila Soetomo terbukti “panjebar semangat”.
Baca Juga: Review Film: Code Name Banshee, Semoga Bukan Akhir Karir Antonio Banderas
Kita membuka Panjebar Semangat edisi 21 Desember 1940. Surat kabar berbahasa Jawa itu memuat iklan majalah terbit di Solo. Iklan untuk berbagi “semangat”. Di situ, tersaji iklan tak bergambar, cuma kata-kata: “Hanja Adil. Madjalah minggoean Islam jang mendjadi reboetan segenap oemmat Islam Indonesia.”
Penjelasan agak mengandung “sombong”. Penggunaan diksi “reboetan” mengartikan ada ribuan orang berlangganan atau berharapan selalu mendapatkan terbitan Adil. Kita mula-mula menuduh “sombong” sambil berusaha membuktikan.
Pembaca digoda membuka halaman-halaman Adil, menggugurkan bantahan atau keraguan. Majalah tak biasa-biasa saja. Kita diminta membuktikan: ‘Sebab isinja hangat, kritiekan tadjam, artikelennja wetenschappelijk, podjoknja kotjak.” Hal terakhir itu penting.
Orang-orang lawas masih ingat, pojok di majalah Adil ditulis oleh Sikoet. Di keseharian, Sikoet itu bernama Soerono Wirohardjono. Di Solo, ia dikenal wartawan ampuh melintasi sekian zaman.
Baca Juga: Taman Siswa dan (Sengketa) Sastra
Kita gagal mendapatkan majalah Adil terbitan masa 1940-an. Di depan mata, ada majalah Adil edisi Juni 1965. Majalah masih panjang umur, terus terbit sejak masa 1940-an sampai 1960-an. Di halaman 6, pojok oleh Sikoet mengenai Muktamar Muhammadiyah di Bandung. Gambar di rubrik memang lelaki berpeci sedang main sikut.
Kita membaca kritik masalah wartawan dan jurnalistik. Kritik atau sindiran ditujukan kepada Muhammadiyah. Adil itu majalah diurusi orang-orang Muhammadiyah tapi berhak memberi kritik untuk Muhammadiyah. Kritik itu sikut(an) minta tanggapan atau balasan.
Majalah Adil laris, digemari para pembaca. Kita agak membenarkan penggunaan diksi “reboetan” dalam iklan masa 1940-an. Di majalah Adil, Juni 1965, dipasang pengumuman dari pihak tata usaha: “Berhubung banjak permintaan dari pembatja Adil jaitu minta dikirim Adil sedjak no 1, karena persediaan telah habis, terpaksa tidak dapat memenuhi permintaan tersebut.” Para pembaca dan penggemar dilarang marah dan kecewa. Pihak tata usaha sudah menulis di pengumuman: “harap maklum”.
Kita kembali ke iklan bertahun 1940. Iklan ikutan: “Tahoekah toean-toean madjalah boelanan AlFatch? Satoe madjalah Islam penghiboer. Penoeh gambar.” Orang-orang tergoda membaca dua majalah (Adil dan Alfatch) segera menghubungi pihak administrasi beralamat di Solo.
Baca Juga: Review Film The Unbearable Weight Of Massive Talent: Ketika Nicolas Cage Menjadi Nicolas Cage
Artikel Terkait
Opini Bandung Mawardi: Buku dan Waktu
Ensiklopedia, Iklan, Sastra
Kamus dan “Kemadjoean” Budi Utomo dan Muhammadiyah
Tiga Serangkai: Nama, Logo, Alamat
Teringat (Sedikit) Saja: Penerbit dan Buku Pelajaran