12 Angry Men (1957), Film Hitam Putih Terbaik Bertema Persidangan

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Sabtu, 9 Juli 2022 | 11:43 WIB
Foto dari www.99.co
Foto dari www.99.co

TINEMU.COM - Film tahun 1957 ini memiliki jalan cerita menarik yang tak terduga. Meskipun latar pada film ini hanya di satu tempat, namun nyatanya hal tersebut tidak membuat bosan para penontonnya.

Di satu ruangan, 12 orang pria tengah berdiskuasi menentukan nasib seseorang.12 Angry Men adalah salah satu film terbaik sepanjang masa dengan rating 9,0/10.

Sudah cukup banyak pengulas merekomendasikan film ini. Sekilas, saya menduga akan film klasik membosankan berformat hitam-putih dengan judul 12 orang yang marah, lalu mereka marah karena apa?

12 (dua belas) adalah jumlah orang sebagai juri dalam persidangan. Dari judulnya pun, saya sekali lagi menduga akan kemarahan dua belas orang juri terhadap tersangka, yang mungkin membuat geram publik.

Atau mungkin juga bakal hadir berbagai konflik di antara kedua belas orang juri dalam menentukan hasil akhir persidangan.

Dari semua dugaan dalam benak saya, ternyata sebagian benar adanya, namun sebagian besar tidak!

Saya pribadi memberikan apresiasi kepada para pengulas film lokal untuk mengenalkan sekaligus mempopulerkan salah satu film terbaik bertemakan persidangan. Tidaklah heran jika film tersebut memiliki rating tertinggi dari para kritikus. 

Baca Juga: Gus Baha : Banyak yang Tampaknya Ahli Ibadah Tapi Bodoh Bukan Main

Pertama kali saya tonton film 12 Angry Men, adegan awal memperlihatkan situasi dan dialog di dalam ruang persidangan. Dari beberapa dialog mengutarakan akan kasus pembunuhan seorang anak remaja yang menjadi tersangka, setelah ia membunuh ayahnya.

Lalu kamera beralih ke dalam suatu ruangan khusus yang terdiri dari satu meja panjang dan besar, dikelilingi oleh banyak kursi. Tidak lama kemudian, satu-persatu datanglah kedua belas orang tersebut, yang tak lain adalah para juri.

Artinya persidangan telah dilakukan, dan kini sedang rehat untuk memutuskan tersangka bersalah atau tidak. Nah, disitulah perjalanan dimulai! Awal mulanya, kedua belas orang juri yang tak kenal satu sama lain, mulai membuka obrolan santai, sebelum mereka mengadakan rapat untuk keputusan sidang.

Maka, rapat pun dibuka dengan berbagai argumen hingga kepada pengumpulan suara terbanyak di antara mereka. Sebelas orang menentukan tersangka bersalah, namun hanya satu orang yang menyuarakan tidak bersalah.

Baca Juga: Cerita Pendek Damhuri Muhammad: Mariam Mengasah Pisau

FIlm 12 Angry Men fokus pada dialog antar dua belas karakter yang mengalir secara real time selama sekitar 1,5 jam. Dialog dibangun secara realistis terhadap berbagai argumen dan perdebatan, hingga menimbulkan intrik dan konflik satu-sama lain, karena adanya perbedaan opini, berdasarkan nalar dan logika.

Narasi yang berdasarkan kasus pembunuhan dengan menghadirkan alibi terdakwa dan beberapa orang saksi yang memberatkannya, diungkapkan secara detail melalui berbagai hipotesa dan analisis dari persepsi semua juri.

Hingga terjadilah serangkaian argumen spontan, perdebatan yang memicu emosi dan bahkan terkadang keluar jalur kearah personal.

Puncaknya, yakni ketika sejumlah konflik terjadi di antara mereka yang beberapa kali mengadakan pemungutan suara untuk penentuan keputusan, mengakibatkan berimbangnya suara terhadap keputusan "bersalah" dan "tidak bersalah" terhadap terdakwa.

Penulis naskah Reginald Rose, begitu piawai dalam memandu emosi audiens untuk terus penasaran dan larut dalam keputusasaan kedua belas juri, sementara waktu terus berjalan untuk menekan sebuah keputusan bulat.

Baca Juga: Minum Jamu dan Membaca Buku

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X