Cerita Pendek: Mariam Mengasah Pisau

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Sabtu, 9 Juli 2022 | 05:00 WIB
Mariam Mengasah Pisau (Zay Lawanglangit)
Mariam Mengasah Pisau (Zay Lawanglangit)

TINEMU.COM

Dari semua itu, yang paling menggoda bagi Aulad
adalah wangi yang menyeruak dari tubuh seksinya.
Aroma yang bagai menghisap bau anyir dari sisa-sisa pencincangan daging.
Jarak yang hanya sepertiga langkah dari posisi berdiri Aulad
memungkinkan aroma mewah itu menghisap seluruh bau tak sedap
di sekitar halaman masjid raya, dan satu-satunya yang tersisa
hanyalah wangi tubuh Nyonya Sonya.


Mariam Mengasah Pisau

Gerakan tangannya saat menancapkan ujung pisau di antara kulit, lemak, dan daging, setenang gerakan tangan perempuan saat mengiris kue lapis sebelum tersuguh di ruang tamu. Perlahan, tapi mengena sampai dalam. Sayatan demi sayatan tak pernah meleset, hingga tak ada potongan daging yang bercampur dengan serpihan-serpihan lemak. Ketajaman pisaunya memastikan kerja penyembelihan tanpa rasa sakit.

Cara menguji ketajaman itu mudah saja. Layangkan selembar kertas di atas mata pisau, niscaya lembaran itu akan terbelah dua. Maka, ketika mata pisaunya bersentuhan dengan urat leher seekor domba, rasanya akan seperti elusan tangan penggembala saja, lalu dalam sekali tarikan napas, urat itu putus. Tak ada erangan, tak ada lenguhan, apalagi hentakan kesakitan.

Di tangan dingin jagal bertubuh liat dan kekar itu, hewan-hewan qurban bagai tersenyum bahagia menjemput kematian.

“Ajari saya cara menguliti daging bahu,” sapa seorang nyonya muda, tak lama setelah ia menuntaskan pekerjaan mengiris-ngiris daging.

Baca Juga: Minum Jamu dan Membaca Buku

Sejak ia membenamkan mata pisau di setiap leher sapi dan domba, hingga  menguliti hewan-hewan qurban yang bergelantungan di halaman masjid raya, nyonya muda itu mengamatinya dengan cermat dan saksama. Baginya, jagal itu bukan lagi karyawan rumah potong hewan pada umumnya, tapi seniman yang mampu menyulap situasi penyembelihan bergelimang darah menjadi sebuah pertunjukan yang menakjubkan.

Orang-orang yang menyaksikan pertunjukan itu tidak memposisikan dirinya seperti algojo pencabut nyawa, tapi sebagai malaikat yang dengan penuh kelembutan mengantarkan hewan-hewan itu menuju kehidupan baru. Atau seperti malaikat yang memandu jalan ke surga bagi orang-orang saleh di alam akhirat.     

“Bahu sapi, maksud Nyonya?” katanya dalam suara sedikit tertahan, sambil mengelap  gagang pisau setelah dibersihkan dari noda-noda merah.

Area yang dinaungi tenda ukuran besar di halaman masjid raya itu sudah sepi. Para pembawa kupon sudah pulang membawa jatah pembagian masing-masing.  Hanya tersisa satu-dua petugas kebersihan yang sedang membereskan barang-barang inventaris masjid.

“Bahu suami saya!” bisik si nyonya muda.

Baca Juga: Sandiaga Uno Dorong Potensi Desa Wisata Warisan Leluhur Bugisan, Ciptakan Lapangan Kerja

Ia berusaha tenang. Sedapat-dapatnya tidak memperlihatkan keterkejutan,  apalagi rasa penasaran. Ia pura-pura sibuk mengemasi perkakas penjagalan ke dalam tas yang dicantolkan di pagar masjid. Atau sekadar menggulung tali temali yang masih berserakan di area di bawah tenda.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X