12 Angry Men (1957), Film Hitam Putih Terbaik Bertema Persidangan

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Sabtu, 9 Juli 2022 | 11:43 WIB
Foto dari www.99.co
Foto dari www.99.co

Kepiawaian Sidney Lumet dalam mentransfer naskah tersebut, sangat terasa akan atmosfir suasana nyata, seakan mambawa saya atau audiens menjadi seorang pendengar yang hadir di dalam ruangan tersebut. Tidak ada adegan lain dalam ruang dan waktu yang berbeda.

Sederetan aktor legendaris di masanya, berperan masing-masing sebagai karakter unik satu sama lain. Ada yang hanya saling kenal saja, ada jalinan pertemanan atau keakraban selama rapat, ada kebencian dan perselisihan, ada pula yang bersimpati atau malah berantipati. 

Aktor legendaris Henry Fonda sebagai Davis atau Juri No. 8 yang konsisten sejak awal menyatakan terdakwa tidak bersalah dan terus berusaha berpendirian teguh akan argumennya, lalu ada Martin Balsam sebagai Juri No. 1 alias pimpinan yang menjadi mediator dan berusaha netral.

Lalu aktor Lee J. Cobb sebagai Juri No. 3 yang terkesan arogan, keras kepala dan boleh dibilang antagonis yang selalu bertentangan dengan Davis.

Sedangkan juri lain, beberapa di antaranya terlihat mengalami perubahan sikap dan keraguan untuk sebuah keputusan besar melalui pemungutan suara terakhir. Ada yang terlihat pasif, galau, sopan dan lemah lembut, terlalu rasional, sensitif, tangguh, terlalu reaktif, cerdas hingga cerewet.

Baca Juga: Sandiaga Uno Dorong Potensi Desa Wisata Warisan Leluhur Bugisan, Ciptakan Lapangan Kerja

12 Angry Men yang merepresentasikan judulnya itu sendiri, disimbolkan dengan setting dan sudut pengambilan adegan, melalui format hitam-putih, yang menggambarkan hawa panas di dalam sebuah ruangan tanpa pendingin udara.

Sehingga mempermudah amarah yang meledak-ledak, terkait isu sensitif sebagai instrumen dari persoalan hukum yang dihadapi.

Hingga akhirnya turun hujan, suasana berubah tiba-tiba meredakan konflik di antara mereka yang sepertinya mulai mengarah kepada sebuah konklusi. Sungguh melankolis di tengah kegelisahan dan keputusasaan dalam pengambilan keputusan menjelang detik-detik terakhirnya.

Secara tidak langsung, mereka akhirnya lebih mengenali karakteristik dan kepribadian satu sama lain.

Baca Juga: Menguak yang Tersembunyi Dalam Sains

Tanpa harus diiringi scoring yang dramatis, semua adegan dalam film ini sudah sangat emosional dan begitu dalam, melalui berbagai ekspresi dan dialog tajam.

Film 12 Angry Men akhirnya menjelaskan judulnya itu sendiri, atas pertanyaan: mereka marah karena apa. Narasi film ini tidak hanya bertutur mengenai bagaimana melucuti alibi terdakwa, melalui reka ulang dan argumen rasional semata.

Film ini secara jelas mengangkat isu sosial sensitif dalam kultur lingkungan Amerika saat itu, dalam sudut pandang objektif dari kedua belas juri tersebut.

Film ini memang sangat direkomendasikan sebagai tontonan yang mempertanyakan keadilan di mata hukum, melalui opini objektif secara manusiawi. Jadi, mereka marah karena apa?

Score : 4 / 4 stars

12 Angry Men | 1957 | Drama, Thriller, PengadilanPemain: Henry Fonda, Lee J. Cobb, Ed Begley, E.G. Marshall, Jack Warden, Martin Balsam | Sutradara: Sidney Lumet | Produser: Henry Fonda, Reginald Rose | Penulis: Reginald Rose | Musik: Kenyon Hopkins | Sinematografi: Boris Kaufman | Distributor: United Artists | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 96 Menit

Dilansir dari duniasinema.com/2017/07/revie
dengan judul: 12 Angry Men (1957) : Mereka Marah karena Apa? ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X