TINEMU.COM - Pada 1956, Gunung Agung menerbitkan buku berjudul Chairil Anwar: Pelopor Angkatan 45. Buku berisi “satu pembitjaraan” oleh HB Jassin dan “disertai kumpulan hasil-hasil tulisannja”. Kita mengartikan puisi-puisi dan sekian pidato buatan Chairil Anwar.
Buku penting, referensi babon bagi orang-orang berurusan dengan Chairil Anwar.
Buku lawas itu mungkin terkenang cuma mengacu tulisan-tulisan Chairil Anwar dan HB Jassin. Para pembaca selama puluhan tahun mungkin tak memberi tatapan-ingatan untuk tampilan buku.
Gambar-gambar di sampul depan dan belakang itu buatan Zaini. Pada masa lalu, buku mengenai Chairil Anwar belum “diwajibkan” menampilkan foto atau lukisan si tokoh di sampul buku.
Baca Juga: Universitas Bunda Mulia Gandeng WIR Group Kembangkan Platform Metaverse untuk Dunia Pendidikan
Tahun-tahun berlalu, kita mungkin jemu dengan penerbitan lagi atau cetak ulang buku sering menampilkan lukisan atau foto Chairil Anwar. Jemu memang tak terlarang.
Pengulangan terjadi dalam penerbitan majalah-majalah.
Kita menikmati Horison edisi April 1985. Edisi mengenang Chairil Anwar. Peringatan bersumber kematian. Di sampul, gambar Chairil Anwar dibuat oleh Hardyono.
Sutardji Calzoum Bachri bilang: “Chairil Anwar mendapatkan pendidikan Barat (Belanda), dengan alam pikiran Belanda, berikut perasaan dan sensibilitasnya. Ini tentu banyak mempengaruhi sikap dan pikiran Chairil. Ditambah pula ketidakcocokkannya dengan semangat penyair sebelumnya yang kebanyakan bernostalgia pada masa lampau (seperti kebanyakan para penyair Pujangga Baru) mungkin mendorong Chairil Anwar untuk ‘berontak’ dengan mengambil semangat Barat sebagai jiwa ungkapan pribadinya.”
Baca Juga: Penderita Hipertensi Tetap Aman Mengkonsumsi Daging Kambing, Caranya?
Pendapat itu menguatkan Chairil Anwar dalam sastra. Kita mungkin sudah mengetahui pendapat-pendapat berulang makin membesarkan Chairil Anwar.
Kita senang mendapat pengisahan dari Mochtar Lubis: “Kami cepat jadi teman dekat. Waktu itu saya sudah kawin. Dia belum. Dan Chairil termasuk seorang anak manusia, yang punya perut tanpa dasar, alias merasa lapar terus-menerus setiap waktu.” Kita diingatakan bahwa sang tokoh sering lapar. Chairil Anwar tak sanggup memenuhi kebutuhan pangan. Ia terbiasa “merepotkan” teman-teman demi perut. Kita berjarak dari masalah melulu sastra.
Peringatan berdalih mengenang Chairil Anwar di majalah sastra itu biasa. Kini, kita membaca majalah Intisari. Majalah itu dulu teringat memuat beragam hal. Intisari edisi Juli 2002 terbit dengan ketokohan: “Seratus Tahun Chairil Anwar”. Ikhtiar turut dalam peringatan oleh majalah bukan sastra.
Baca Juga: Tips Gampang Mengolah Daging Kambing Agar Tidak Bau
Persamaan atau pengulangan terjadi: pemuatan foto Chairil di sampul majalah. Sang tokoh tampak sedang tertawa. Ia mungkin sudah menjawab lapar. Di majalah Intisari dan Horison, Chairil Anwar tampil “sopan” tanpa adegan merokok.
Artikel Terkait
Majalah Adil dan Alfatch, Dari Rebutan, Kehabisan, dan Bahasa
Minum Jamu dan Membaca Buku
12 Angry Men (1957), Film Hitam Putih Terbaik Bertema Persidangan
Novel: "Untung" dan Penolakan