Hasan Aspahani menjelaskan: “Keutuhan sikap Chairil Anwar terhadap seni sebagai jalan hidup menjadikannya sebagai orang yang tak mengotak-ngotakkan kesenian. Ia bergaul luas dengan seniman lain dan memasuki kalangan dunia seni lain terutama seni lukis.”
Di Indonesia, Chairil Anwar mungkin sosok terlarik untuk dilukis sepanjang masa. Ia “dimanjakan” para pelukis, selain dimanjatakan kaum sastra.
Baca Juga: Novel: Untung dan Penolakan
Kita mungkin turut ingin mengartikan seratus Chairil Anwar. Keinginan mungkin dihajar bosan dan malu. Segala hal mengenai Chairil Anwar sudah diurusi sekian orang, mengalami pengulangan, dan membesar tanpa rem. Pada saat peringatan 100 tahun Chairil Anwar, kita mungkin meragu untuk berpendapat gara-gara dirundung jemu. Begitu.**
Artikel Terkait
Majalah Adil dan Alfatch, Dari Rebutan, Kehabisan, dan Bahasa
Minum Jamu dan Membaca Buku
12 Angry Men (1957), Film Hitam Putih Terbaik Bertema Persidangan
Novel: "Untung" dan Penolakan