temu-lawas

Keraton Karta Situs Sejarah di Pleret Bantul yang Hilang

Minggu, 8 Januari 2023 | 20:06 WIB
Batu persegi empat atau biasa disebut umpak atau alas tiang kayu dari Keraton Kertosekar. Foto tangkap layar dari aroengbinang.com

Karena kurang berkenannya banyak keluarga keraton atas penobatan Raden Mas Suryaputra sebagai Amangkurat IV, rakyat Jawa terpecah kepercayaannya, menjadi lima kubu, yaitu pihak Amangkurat IV kemudian ketiga saudaranya, yaitu; Pangeran Purbaya, Pangeran Balitar, Pangeran Arya Dipanagara, dan Pangeran Arya Mataram (paman Amangkurat IV).

Pangeran Balitar dan Pangeran Purbaya, mereka bersatu mendirikan kembali Keraton Karta bekas peninggalan Sultan Agung dan diberi nama Keraton Kartasekar sebagai pusat keraton tandingan dari Keraton Kartasura yang diduduki Amangkurat IV.

Baca Juga: 16 Perempuan, 16 Suara, 16 Kekuatan

Kemudian Raden Mas Sudharma atau Pangeran Balitar mengangkat diri sebagai raja Mataram bergelar Sultan Ibnu Mustafa Pakubuwana.

Dengan demikian, pemerintahan Amangkurat IV harus dihadapkan dengan pemberontakan, di mana Mataram terbagi menjadi dua kubu: Amangkurat IV di Kartasura dan Pangeran Balitar di Kartasekar. Sementara itu, Arya Dipanagara membangun basis pertahanan di Madiun dan Arya Mataram di Pati.

Berkaitan dengan kondisi Kartasekar yang saat itu menjadi pusat keraton tandingan Kartasura. Di mana saudara kandung Amangkurat IV yaitu Pangeran Balitar dan Pangeran Purbaya membuat basis perlawanan untuk berupaya menurunkan takhta Amangkurat IV, termasuk menundukkan dahulu Madiun yang menjadi basis pertahanan Pangeran Arya Dipanagara agar bergabung dengan Kartasekar.

Baca Juga: Resensi Film: Satria Dewa Gatotkaca, Alih Wahana yang Tertatih

Maka pada November 1720 pasukan Amangkurat IV dari Kartasura menyerbu Kartasekar. Ini merupakan perang dualisme dalam Kesultanan Mataram, melibatkan dua keraton yang pernah terjadi.

Kartasekar akhirnya diruntuhkan bersamaan dengan kalahnya Pangeran Balitar dan Pangeran Purbaya. Keduanya melarikan diri ke timur. Di mana Pangeran Balitar wafat setahun kemudian di Malang.

Sedangkan Pangeran Purbaya tertangkap di Lamongan dan dibawa VOC ke Batavia pada tahun 1723. Kemudian Arya Dipanagara tertangkap dan diasingkan ke Tanjung Harapan (Afrika Selatan).

Dipastikan saat penyerangan tersebut Keraton Kartasekar diruntuhkan agar tidak digunakan oleh kelompok pemberontak sebagai basis pemberontakan lagi. Tidak heran jika situs Keraton Karta atau Kartasekar hanya tersisa reruntuhan yang ada, bahkan lokasinya hampir tidak dihiraukan dari generasi ke generasi.

Halaman:

Tags

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB