Karena kurang berkenannya banyak keluarga keraton atas penobatan Raden Mas Suryaputra sebagai Amangkurat IV, rakyat Jawa terpecah kepercayaannya, menjadi lima kubu, yaitu pihak Amangkurat IV kemudian ketiga saudaranya, yaitu; Pangeran Purbaya, Pangeran Balitar, Pangeran Arya Dipanagara, dan Pangeran Arya Mataram (paman Amangkurat IV).
Pangeran Balitar dan Pangeran Purbaya, mereka bersatu mendirikan kembali Keraton Karta bekas peninggalan Sultan Agung dan diberi nama Keraton Kartasekar sebagai pusat keraton tandingan dari Keraton Kartasura yang diduduki Amangkurat IV.
Baca Juga: 16 Perempuan, 16 Suara, 16 Kekuatan
Kemudian Raden Mas Sudharma atau Pangeran Balitar mengangkat diri sebagai raja Mataram bergelar Sultan Ibnu Mustafa Pakubuwana.
Dengan demikian, pemerintahan Amangkurat IV harus dihadapkan dengan pemberontakan, di mana Mataram terbagi menjadi dua kubu: Amangkurat IV di Kartasura dan Pangeran Balitar di Kartasekar. Sementara itu, Arya Dipanagara membangun basis pertahanan di Madiun dan Arya Mataram di Pati.
Berkaitan dengan kondisi Kartasekar yang saat itu menjadi pusat keraton tandingan Kartasura. Di mana saudara kandung Amangkurat IV yaitu Pangeran Balitar dan Pangeran Purbaya membuat basis perlawanan untuk berupaya menurunkan takhta Amangkurat IV, termasuk menundukkan dahulu Madiun yang menjadi basis pertahanan Pangeran Arya Dipanagara agar bergabung dengan Kartasekar.
Baca Juga: Resensi Film: Satria Dewa Gatotkaca, Alih Wahana yang Tertatih
Maka pada November 1720 pasukan Amangkurat IV dari Kartasura menyerbu Kartasekar. Ini merupakan perang dualisme dalam Kesultanan Mataram, melibatkan dua keraton yang pernah terjadi.
Kartasekar akhirnya diruntuhkan bersamaan dengan kalahnya Pangeran Balitar dan Pangeran Purbaya. Keduanya melarikan diri ke timur. Di mana Pangeran Balitar wafat setahun kemudian di Malang.
Sedangkan Pangeran Purbaya tertangkap di Lamongan dan dibawa VOC ke Batavia pada tahun 1723. Kemudian Arya Dipanagara tertangkap dan diasingkan ke Tanjung Harapan (Afrika Selatan).
Dipastikan saat penyerangan tersebut Keraton Kartasekar diruntuhkan agar tidak digunakan oleh kelompok pemberontak sebagai basis pemberontakan lagi. Tidak heran jika situs Keraton Karta atau Kartasekar hanya tersisa reruntuhan yang ada, bahkan lokasinya hampir tidak dihiraukan dari generasi ke generasi.