Keraton Karta Situs Sejarah di Pleret Bantul yang Hilang

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Minggu, 8 Januari 2023 | 20:06 WIB
Batu persegi empat atau biasa disebut umpak atau alas tiang kayu dari Keraton Kertosekar. Foto tangkap layar dari aroengbinang.com
Batu persegi empat atau biasa disebut umpak atau alas tiang kayu dari Keraton Kertosekar. Foto tangkap layar dari aroengbinang.com

TINEMU.COM - Keraton Karta, dikenal juga sebagai Keraton Kartasekar) adalah bekas keraton dan ibu kota Kesultanan Mataram setelah Keraton Kutagede pada tahun 16131645.

Keraton Karta didirikan oleh Sultan Agung pada tahun 1613, kemudian pada 1618 baru digunakan hingga 1645. Ketika Sultan Agung wafat di tahun 1645, sampai 1719 keraton Karta kemungkinan masih bertahan.

Pada 1719 keraton Karta dibangun kembali sebagai keraton oleh Pangeran Balitar (putra Pakubuwana I) dan diberi nama Kartasekar, kemudian runtuh pada tahun 1720.

Bangunan ini menjadi pos logistik Sultan Agung ketika ia berusaha berpisah dari keraton keluarganya di Kutagede. Bekas keraton Karta kini masuk wilayah administratif Kabupaten BantulYogyakarta. Situsnya kini sedang dlam tahap pemugaran oleh pemerintah setempat.

Nama "Karta" diambil dari bahasa Jawa Kunokarta artinya menjadi "makmur", namun, dalam bahasa Sanskertakaṛta berarti suatu "pencapaian". Dengan demikian nama Karta yang dimaksud berarti sebuah kota yang makmur, karena di keraton tersebut, Kesultanan Mataram menjadi sebuah kerajaan yang besar.

Baca Juga: Mengenang Harun Al Rasyid, Bidan Lahirnya Era Keemasan Islam (6)

Keraton Karta merupakan tempat pemindahan ibu kota Kesultanan Mataram setelah di Keraton Kutagede. Sejak tahun 1613 Sultan Agung Anyakrakusuma berniat memindahkan ibu kota Mataram dan mendirikan keraton baru ke daerah Karta yang berjarak sekitar 5 km selatan dari Kutagede.

Upaya untuk memindahkan ibu kota Mataram baru terwujud pada tahun 1617. Setahun kemudian Sultan Agung beserta pengikutnya mulai mendiami keraton Karta, meskipun ibu suri masih berada di Kutagede.

Pembangunan komponen Keraton Karta dan sarana penunjang lainnya dilakukan secara bertahap, dalam Babad Momana dan Babad ing Sengkala disebutkan pembangunan yang dilakukan di antaranya: memeriksa lahan di Karta (1617), boyong kedaton menuju Karta (1618), membangun Prabayeksa (1620), membangun Siti Inggil (1625), membangun pemakaman Girilaya (1629)

Dipimpin oleh Panembahan Juminah, membuka Bukit Merak menjadi pemakaman Astana Himagiri (1632-1645), membangun bendungan Sungai Opak (1637), membangun Segaran atau danau buatan di Plered (1643).

Sekitar satu tahun setelah pembangunan terakhir Sultan Agung Anyakrakusuma wafat. Kemudian takhta digantikan oleh Amangkurat I. Atas kehendak raja, ibu kota Mataram dipindahkan kembali dari Karta menuju Plered. Dalam Babad ing Sengkala perpindahan menuju keraton baru tersebut terjadi pada tahun 1647.

Baca Juga: Resensi Film: Tumbal Kanjeng Iblis, Aliran Pemuja Setan dalam Rumah Kos

Keraton Kartasekar adalah keraton yang dibangun oleh Pangeran Balitar salah satu putra Pakubuwana I, di bekas Keraton Karta peninggalan Sultan Agung. Bermula ketika wafatnya Pakubuwana I pada tahun 1719, selanjutnya takhta Mataram digantikan putranya yang bernama Raden Mas Suryaputra (adipati anom) yang naik takhta sebagai Amangkurat IV.

Penobatan Raden Mas Suryaputra sebagai Amangkurat IV ditentang oleh putra-putra Pakubuwana I dari permaisuri Ratu Mas Balitar, di antaranya adalah Raden Mas Sudharma bergelar Pangeran Balitar dan Raden Mas Sasangka bergelar Pangeran Purbaya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Sumber: wikipedia.org

Tags

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X