TINEMU.COM - Kakak Tia (Sheryl Sheinafia) yang sedang kuliah di luar kota menghilang tanpa kabar sejak dua tahun lalu. Ayah Tia, Yusuf, mengalami kejadian aneh –sampai akhirnya sakit keras dan Tia sering mendapat bisikan gaib untuk mencari kakaknya yang hilang.
Tia lalu pergi ke daerah tempat kakaknya kuliah untuk mencari petunjuk, sementara ayahnya yang mendadak sakit keras dirawat inap di RS. Selama di luar kota, Tia menginap di rumah kos milik Bu Rosa (Putri Ayudya) yang kabarnya pernah ditinggali sang kakak.
Di rumah kos Tia mengalami kejadian-kejadian aneh, misalnya bertemu dengan Nathan (Omar Daniel) lelaki yang menyarankannya untuk segera keluar dari rumah kos. Kemudian pada tanggal tertentu seluruh penghuni kos disarankan keluar untuk sementara selama sehari.
Perlahan Tia menyadari di rumah kos itu ada ritual memuja sosok Kanjeng Iblis demi mendapat kemakmuran serta awet muda. Keuntungan yang didapat para pengikut aliran tersebut dengan menumbalkan nyawa seseorang yang beberapa didapat dari penghuni kos Bu Rosa.
Baca Juga: 16 Perempuan, 16 Suara, 16 Kekuatan
Film horor ini cukup menarik karena didukung sederet aktor-aktris terkemuka diantaranya Teuku Rifnu Wikana (ayah Tia), Omar Daniel, Sheryl Sheinafia, dan Putri Ayudya. Diproduksi Visinema yang sukses dengan film bertema persahabatan (NKCTHI, 2018).
Sayangnya masih ada ketidaksinkronan alias kurang rapih dalam “mereka-reka” adegan dalam film Tumbal Kanjeng Iblis ini. Misalnya, ketika Nina mendapatkan penjelasan tentang aliran pemuja setan dari seorang sejarawan tentang skripsinya. Adegan ini muncul tiba-tiba, bahkan penonton tidak tahu bagaimana proses Nina menemui tokoh itu.
Adegan tersebut terlihat langsung dimunculkan begitu saja demi menjawab satu persatu misteri dalam film ini. Padahal mungkin akan lebih menarik jika kekhawatiran dan keingintahuan Tia tampak dalam sebuah pembicaraan yang akhirnya terhubung dengan skripsi soal ritual pemujaan setan yang ditulis Nina sebagai mahasiswa antropologi.
Atau karena mereka kebetulan tinggal dalam rumah kos dan kuliah di kampus yang sama, mereka bisa menjadi sahabat kental untuk menyibak misteri rumah kos dan ritual aliran pemuja setan.
Baca Juga: Resensi Film: Satria Dewa Gatotkaca, Alih Wahana yang Tertatih
Selain ada adegan yang kurang meyakinkan tersebut, aspek kejutan dan penulisan cerita yang sebenarnya terlihat digarap penuh kehati-hatian ini rada terganggu dengan beberapa penampilan make up effects yang kurang mencekam.
Satu hal yang cukup menarik, tokoh Nathan muncul pertama kali seolah dia iblis yang sedang mengganggu Tia. Padahal sebenarnya dia tokoh yang hendak memutuskan rantai ritual pemujaan setan itu.
Film ini cukup menyegarkan dalam khasanah film horor Indonesia walau ceritanya sedikit mengingatkan benak penonton pada film klasik “Rosemary’s Baby” yang dirilis 1968 karya Roman Polanski.
Bedanya “Rosemary’s” adalah film suspens thriller psikologis, sedangkan “Tumbal” 100% horor. Ada pretensi besar ingin mengolah cerita film ini berbobot meskipun masih kedodoran (pertemuan kebetulan Nina dan ahli sejarah).
Baca Juga: Kalender Terlambat Datang
Tanpa tedeng aling-aling film ini langsung dibuka adegan sembahyang orang meninggal yang terganggu serangan iblis. Adegan akhir film ini juga sangat menarik bahkan membuka kemungkinan baru film kelak akan bisa dibuat sequelnya. **
Artikel Terkait
Tak Ada Daging, Coba Cicipi Rendang Kerang Bercita Rasa Unik
Paket Wisata Kopi Kintamani Tawarkan Pengalaman Unik dan Menarik
Resensi Film: Satria Dewa Gatotkaca, Alih Wahana yang Tertatih