Opini: Ibu Tien Soeharto dan Kaum Perempuan: Cantik, Busana, Piala

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Kamis, 31 Maret 2022 | 13:56 WIB
Buku Ibu Tien Soeharto karangan Abdul Gafur (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)
Buku Ibu Tien Soeharto karangan Abdul Gafur (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)

TINEMU.COM -- Orde Baru boleh dikenang sebagai “orde kecantikan” dan “orde busana”. Kita sering beranggapan Orde Baru itu maskulin dan militeristik. Orde Baru pun memiliki bab-bab memberi pengisahan kaum perempuan mencipta peran dan kehormatan. Mereka turut dalam pemaknaan zaman dan bermaksud memenuhi ketentuan-ketentuan pembangunan nasional.

Indonesia itu cantik! Indonesia itu anggun!

Capaian menjadi cantik dan anggun disahkan dengan pemberiaan piala. Kemenangan setelah penampilan dan penilaian. Usaha untuk menjadikan diri cantik memerlukan ilmu dan panutan. Diri berbusana mengisahkan adat atau kepribadian pun berdasarkan kesadaran hikmah.

Busana menjadi pengungkapan beragam hal melalui bentuk, warna, dan ukuran. Busana bukan benda tampak mata saja.

Grace Shella mendapatkan Piala Bergilir Ibu Tien Soeharto. Ia mewakili Sulawesi Utara dalam lomba Ngadi Salira Ngadi Busono diadakan PT Mustika Ratu, Kantor Menteri Kependudukan/Ketua BKKBN, dana HWK.

Baca Juga: Tekan Emisi Lewat Co-Firing, PLN Hasilkan Listrik Hijau 96 Ribu MWh dari 28 PLTU

Di majalah Sarinah, 25 Juli-7 Agustus 11994, kita membaca keterangan: “Ngadi Saliro Ngadi Busono menitikberatkan pada ‘trilogi keanggunan wanita’. Perawatan kecantikan lahir dan batin. Berbusana serasi disesuaikan dengan waktu, situasi, kondisi, dan lingkungan. Tata krama yang mencakup tata pergaulan dan perilaku.”

Lomba itu direstui rezim Orde Baru. Kita mengerti dari pihak-pihak terlibat dalam lomba dan nama piala. Puncak acara di Jakarta Hilton Convention Centre, 11 November 1993, disaksikan Ibu Tien Soeharto.

Kutipan pidato dari Ibu Negara: “Keinginan untuk tampak cantik dan anggun merupakan salah satu naluri manusia yang wajar, terlebih bagi kaum wanita. Dalam beberapa hal, pemeliharaan kecantikan juga dapat menambah kuatnya kepribadian dan rasa percaya diri.”

Baca Juga: Gus Baha : Suka Tertawa Itu Ciri Orang yang Ridha. Jadi Jangan Gampang Ngamukan!

Di buku berjudul Siti Hartinah Soeharto: Ibu Utama Indonesia (1992) susunan Abdul Gafur, kita membaca keterangan: “Sebagai seorang wanita, Ibu Tien Soeharto pun memiliki selera tinggi dalam berbusana. Selera tinggi terhadap warna dan keserasian. Tidak mesti bahan pakaian harus tang berharga mahal. Dengan bahan yang tergolong biasa-biasa saja, tapi setelah jadi kebaya dan dikenakan oleh beliau serta merta tampak rapi, serasi, dan menarik. Menjadi lebih serasi dipandang mata karena warna baju kesenangan Ibu Tien Soeharto selalu memancarkan kecerahan.”

Kita bermufakat bila Ibu Tien Soeharti memang referensi terpenting bagi kaum perempuan berbusana dengan suasana Orde Baru. Sejak masa 1970-an, Ibu Tien Soeharto tampil dengan busana mengartikan Indonesia dalam acara-acara resmi kenegaraan dan beragam acara tak resmi.

Ibu Tien Soeharto jadi teladan dan patokan. Peran dan memberi pesan-pesan bertema kecantikan dan busana oleh Ibu Tien Soeharto diterjemahkan para pengusaha, perancang busana, istri pejabat, dan pelbagai pihak bermaksud sesuai garis-garis pembangunan nasional.

Baca Juga: Terjadi Penembakan Gerbong KRL Arah Serpong, Petugas Temukan Proyektil

Penamaan piala dalam lomba Ngadi Saliro Ngadi Busono  di Jakarta itu mengesankan wajib demi pemaknaan kecantikan dan busana di Indonesia. Indonesia terlihat melalui pemenuhan ketentuan panitia bahwa para peserta dalam lomba mengenakan busana daerah (asli).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X