TINEMU.COM - Si bocah mengatakan: “Ketika malam hari, bulan purnama terjerat di antara dahan-dahan pohon. Tak adakah orang yang dapat menangkapnya?”
Jawaban tak diperoleh. Ledekan malah menimpa: “Engkau anak paling bodoh. Bulan teramat jauh dari kita. Bagaimana orang dapat menangkapnya?”
Si bocah tak terima, membalas dengan membodohkan. Ia membutuhkan jawaban dan perbuatan, bukan hinaan. Si bocah merasakan kebenaran: “Engkau bahkan bisa menangkapnya dengan kedua tanganmu.”
Kebenaran dihajar ledekan lagi: “Engkaulah anak terbodoh. Jika bulan datang mendekat, engkau akan melihat betapa besarnya bulan.”
Baca Juga: Kepala BNPB Bersama Wapres RI Tinjau Huntap dan Huntara Sumbermujur
Percakapan itu ditulis Rabindranath Tagore. Pengarang asal India meraih Nobel Sastra (1913) mengajak pembaca mengimajinasikan langit berbulan. Imajinasi mengikuti kemauan si bocah. Perdebatan dan penghinaan gara-gara “kebenaran” termiliki berbeda.
Kita merasakan kebenaran batiniah-lugu dan kebenaran berpatokan ilmu pengetahuan. Si bocah dalam gubahan satra itu sadar. Tagore mustahil menceritakan si bocah dalam kondisi mabuk.
Bocah memang “minum” imajinasi dan kebenaran terlugu, bukan “minum” bikin mabuk dan hilang kesadaran.
Pada 1999, terbit buku berjudul Komet, Asteroid, dan Meteorit garapan C. Pratt Nicolson. Ilustrasi oleh Bill Slavin. Buku untuk anak suka memandang langit, berimajinasi, dan meraih kebenaran.
Baca Juga: Cerbung Zabidi Sayidi : Petualangan Bocah-Bocah Sorotan (19)
Buku terlalu berbeda citarasa dengan gubahan Tagore. Kita mengutip babak belum berpedoman ilmu pengetahuan: “Sebuah komet yang sangat terang terlihat beberapa waktu setelah penguasa Roma, Julius Caesar dibunuh. Beberapa orang berpendapat bahwa komet itu jiwa Julius Caesar yang kembali untuk menghantui musuh-musuhnya.
Menurut Octavianus, cucu lelaki kaisar dan ahli warisnya, komet itu menandakan bahwa Julius Caesar adalah dewa.” Penggalan imajinatif! Kita menengok masa lalu penuh kemegahan dan bahasa berlebihan.
Tahun-tahun penantian penjelasan (terlalu) lama. Pada abad XVII, penjelasan diajukan sesuai kesadaran-ilmiah. Kita mengutip lagi: “Pada 1682, Edmond Halley melihat pijaran komet yang sangat terang di angkasa Inggris. Dia memperhitungkan bahwa dua komet yang terdahulu telah melewati garis edar yang sama. Masing-masing komet mengikuti yang lainnya dengan jarak 75 tahun.
Baca Juga: Keluarga Kang Emil Nyatakan Eril Sudah Meninggal, MUI Jabar Himbau Gelar Shalat Ghaib
Halley sadar. Dia tidak mempelajari tiga komet yang berbeda, hanya satu yang tetap kembali. ‘Komet ini akan kembali lagi sekitar tahun 1758,’ kata Halley. Pada awal 1759, perkiraan itu menjadi kenyataan. Komet itu dinamai sama dengan namanya.
Artikel Terkait
Sejarah Teh Rusia & Eropa (Bagian 4)
Sejarah Teh India (Bagian 5)
Perjalanan Teh Hingga Amerika (Bagian 6)
Ende, Pohon Sukun, dan Lahirnya Pancasila