TINEMU.COM - Pada masa 1970-an dan 1980-an, ratusan judul novel populer terbit. Sekian judul laris dan memoncerkan pengarang. Novel-novel dianggap penting, laris, dan berpengaruh dibuat menjadi film.
Para pembaca ketagihan novel-novel digubah Marga T, Mira W, Ashadi Siregar, Ike Soepomo, Maria A Sardjono, dan lain-lain. Mereka mungkin juga menonton film dari novel-novel pilihan. Mereka perlahan mengenali para bintang film dianggap cocok dan berhasil memerankan para tokoh terdapat dalam novel. Pujian untuk pengarang bertambah mengagumi para pemain film.
Pada masa lalu, novel-novel populer sering diulas para kritikus sastra atau sesama pengarang. Beragam resensi dan esai dimuat di majalah, koran, dan buku. Seminar atau diskusi bertema sastra populer atau novel populer sering ramai. Kita menduga itu masa terindah.
Baca Juga: Review The Ballad of Narayama; Tradisi Membiarkan Orang Tua untuk Mati di Gunung
Kita membuka buku berjudul Novel Populer Indonesia (1982) garapan Jakob Sumardjo. Pengertian (paling) sederhana terberikan: “Pada dasarnya, novel populer merupakan kelanjutan dari apa yang dinamai novel picisan sejak sebelum Perang Dunia II.”
“Novel populer ditulis untuk didagangkan,” tulis Jakob Sumardjo. Kita mengangguk saja berarti mufakat. Industri novel populer di Indonesia disokong puluhan penerbit. Nama-nama besar dan tenar menjamin laku. Novel cap “dagang” terbukti laris melampaui novel-novel gubahan para pengarang sering dibicarakan di majalah-majalah sastra.
Sekian majalah umum, keluarga, dan wanita turut membesarkan novel populer. Mereka kadang bersiasat dengan pemuatan cerita bersambung, sebelum terbit menjadi buku. Masa lalu itu bercerita untung dan seru.
Baca Juga: Menparekraf Dorong Pengembangan Sport Tourism di Desa Wisata Lonuo (Bukit Arang)
Pendapat dari Jakob Sumardjo: “Rata-rata novel populer dangkal isi dan penggarapannya lantaran para pengarang diburu oleh penerbit. Dan penerbit pada gilirannya diburu oleh permintaan publik. Tidak jarang bahwa penulis-penulis novel populer yang sedang laris selalu diburu pesanan-pesanan.”
Di buku dengan cetakan jelek dan kertas buram, Jakob Sumardjo mengulas novel-novel dari para penulis. Di situ, kita tak menemukan nama Dono.
Di buku berjudul Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (1990) susunan Pamusuk Eneste, kita mustahil menemukan nama Dono sebagai penulis. Pada masa lalu, ia dikenal sebagai pelawak atau pemain film-film komedi. Kita mengerti Pamusuk Eneste tak mencantumkan nama dan memuat foto Dono dalam buku.
Dua buku itu kita tutup saja.
Baca Juga: Nagita Slavina Jabat CEO Baru, Esteh Indonesia Jadi ‘BUMN’, Karyawannya Berstatus ‘PNS’
Di majalah Matra edisi September 1990, kita melihat foto Dono tampak tertawa. Ia sedang bergembira. Kita menduga ia bukan berfoto saat main film. Dono berpenampilan rapi. Nama lengkap ditulis dibawah foto: Wahjoe Sardono. Kita keseringan melihat wajah Dono dalam film-film. Berita di Matra bukan menampilkan Dono sebagai pemain film tapi penulis novel.
Kita mengutip: “Sebuah novel remaja telah dirampungkannya pada tahun 1989 lalu, dengan judul Cemara-Cemara Kampus. Dan ternyata bukunya laris bak kacang goreng. Hingga saat ini sudah 10.000 eksemplar terjual.” Laris! “Bayangin, dari 180 juta rakyat kita, 10.000 membeli buku saya,” kata Dono bersuka cita. Dono terbukti laris dalam film dan bertepuk tangan dalam industri novel populer.
Artikel Terkait
Mengenal RIOT, Sang Metal Mini: Membangun Karir Kembali (2)
Mengenal RIOT, Sang Metal Mini: Bangkit dan Terpuruk Lagi (3)
Cerbung Zabidi Sayidi : Petualangan Bocah-Bocah Sorotan (25)
Review The Ballad of Narayama; Tradisi Membiarkan Orang Tua untuk Mati di Gunung