Mengenal Sultan Demak I: Perdebatan Raden Fatah dengan Aryo Damar (4)

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Selasa, 27 September 2022 | 15:09 WIB
Foto dari buddyku.com
Foto dari buddyku.com

TINEMU.COM - Disamping mempelajari ilmu agama, Raden Fatah juga mempelajari ilmu pemerintahan dari Arya Damar. Dengan kedua dasar ilmu ini, bisa dimaklumi bila di kemudian hari, Raden Fatah demikian tangkas memanjat struktur sosial dan politik di tengah masyarakat.

Berdasarkan informasi dari naskah Klenteng Sam Po Kong di Semarang, Raden Fatah tinggal dan dididik oleh Arya Damar sekitar 15 tahun, yaitu dari tahun 1456 (5) sampai 1471.[1] Dalam kurun waktu tersebut, Raden Fatah tidak hanya belajar ilmu agama, tapi juga ilmu pemerintahan kepada Arya Damar. [2]

Sebagaimana sudah dibahas sebelumnya, Arya Damar memiliki pengalaman yang cukup panjang, baik dalam pemerintahan maupun secara militer di Majapahit. Dalam cerita tutur Jawa-Bali bertajuk Usana Jawa dan Pamacangah, dikisahkan Arya Damar adalah pahlawan yang berhasil menaklukkan seluruh Bali pada masa pemerintahan Rani Suhita.

Setelah menaklukkan Bali, Arya Damar dikisahkan berhasil menumpas pemberontakan yang terjadi di Pasunggiri. Kemudian, Arya Damar juga ikut dalam upaya memedamkam pemberontakan yang dilakukan oleh Bre Daha, putra Bre Wirabumi pada tahun 1434 M.[3]

Setiap kali berhasil mengamankan wilayah kekuasaan Majapahit, Arya Damar juga berhasil memulihkan sistem pemerintahan di wilayah tersebut. Kemampuan managerial Arya Damar sepertinya cukup mumpuni.

Baca Juga: Mengenal Sultan Demak I: Awal Sayyid Ali Rahmatullah Bergelar Sunan Ampel (3)

Mengingat di setiap wilayah yang diperintahnya, dia selalu meninggalkan kesan yang kuat di tengah masyarakat. Ini terlihat dari bagaimana dia dieluh-eluhkan dalam sejumlah catatan naskah-naskah setempat.

Bahkan di sejumlah wilayah, seperti Bali, Madura, Jawa dan Palembang, nama Arya Damar dikutuskan sebagai salah satu leluruh yang menurunkan tokoh-tokoh besar di wilayah tersebut.[4]

Hanya saja, di akhir-akhir masa pemerintahan Rani Suhita, terjadi keguncangan politik di internal kerajaan. Rani Suhita tiba-tiba menyingkirkan sejumlah tokoh penting yang memiliki jasa besar terhadap Majapahit.

Ironisnya, tersingkirnya tokoh-tokoh penting ini, tanpa ada alasan yang jelas. Padahal mereka dikenal sebagai tokoh yang jujur, setia, kuat, unggul, dan berjasa besar terhadap Majapahit. Salah satunya, adalah Arya Damar. Dia dibuang jauh ke Palembang. [5]

Padahal, Palembang pada masa itu bukanlah wilayah yang secara otoritatif dimiliki oleh Majapahit. Agus Sunyoto mengkonfirmasi data dari catatan Dinasti Ming mendapatkan bahwa Palembang pada masa itu sedang dikuasai para petualang dan perampok Cina sejak era Liang Tau Ming yang dilanjutkan Chen Tsui, Shi Chin Ching, dan Shi Chi Sun, yang semuanya berkuasa di wilayah tersebut layaknya raja.[6]

Baca Juga: Percepatan Program Kendaraan Listrik Butuh Dukungan Riset dan Inovasi

Namun demikian, Arya Damar berhasil memulihkan kembali situasi Palembang. Bahkan lebih dari itu, dia berhasil membuat wilayah tersebut berkembang, hingga akhirnya berdiri kesultanan Palembang Darussalam yang cukup berwibawa pada zamannya.

Sedang di sisi lain, menurut Agus Sunyoto, penyingkiran tokoh-tokoh penting dan berjasa di dalam kerajaan Majapahit secara signifikan menggerus kekuatan imperium terbesar di Nusantara tersebut.[7]

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X