TINEMU.COM - Kemustahilan-kemustahilan mulai terjelaskan saat kita menonton sekian pertandingan di Piala Dunia 2022 di Qatar. Dulu, mustahil itu memberi beban bagi negara-negara dianggap sulit meraih menang. Kini, jawaban diberikan bahwa negara-negara pernah diremehkan justru bisa menciptakan imbang atau menang.
Kita bertepuk tangan untuk Arab Saudi. Kemenangan dalam pertandingan melawan Jerman bakal menjadi sejarah. Orang-orang sempat meragu bila Arab Saudi bisa meraih imbang. Menit-menit berlalu, kemenangan diperoleh. Argentina dibikin malu. Jutaan orang perlahan tergoda ingin mengetahui sejarah dan perkembangan sepak bola di Arab Saudi.
Kita mulai dengan membuka Ensiklopedia Sepak Bola (2011). Di jilid 3, kita membaca keterangan mengenai Piala Asia. Kompetisi akbar di Asia dimulai pada 1956. Tahun-tahun berlalu, kompetisi rutin diadakan setiap 4 tahun dengan 16 tim.
Baca Juga: Inilah Daftar 56 Perusahaan Penerima SNI Award 2022
Keterangan terbaca di sana: “Puncak persepakbolaan Asia telah berlangsung di benua ini lebih dari satu dekade. Pada akhir 1950-an dan 1960-an, Korea Selatan dan Israel berbagi kemenangan beruntun. Iran masuk ke ajang ini di akhir 1960-an, memenangi semua laga sampai tiga turnamen berturut-turut. Ketika Iran menjalani Revolusi Islam dan keluarnya Israel dari AFC, negara-negara Arab ganti mendominasi. Arab Saudi merebut tiga gelar juara.”
Arab Saudi terbukti mulia. Arab Saudi terbiasa dengan menang meski taraf Asia. Di Qatar, kita masih meragu Arab Saudi bakal juara. Meraih menang atau imbang saja mengabarkan kehormatan, tak ada janji bisa sampai final. Arab Saudi sudah tercatat dalam sejarah. Peremehan tak mungkin untuk Arab Saudi.
Kita lanjutkan membuka majalah lama: Tempo, 8 Oktober 1983. Berita sehalaman penting dibaca lagi di sela kesibukan dan kelelahan menonton pertandingan-pertandingan Piala Dunia, sejak sore sampai dini hari. Majalah turut memberi “pengesahan” bila Arab Saudi itu kekuatan besar dalam sepak bola.
Baca Juga: Dukung Sail Tidore 2022, Kemendikbudristek Terus Upayakan Terwujudnya Pemajuan Kebudayaan
Di Indonesia, orang-orang sering ingat Arab Saudi dengan ibadah haji dan umroh. Pengetahuan diperoleh sejak lama. Pada suatu masa, Arab Saudi dikenali dengan sepak bola. Pengetahuan baru dan mengesankan.
Dulu, Arab Saudi datang ke Indonesia membawa ketakutan. Kedatangan bermisi sepak bola. Indonesia pernah kalah. Kedatangan lagi menghasilkan konklusi Indonesia kalah lagi.
Berita diawali dengan kesungguhan Arab Saudi agar menuju Olimpiade. Sedih masih melanda saat dikalahkan Kuwait untuk menuju Piala Dunia di Spanyol. Kita ingat Kuwait dengan perang. Dulu, Kuwait itu ditakuti dalam urusan sepak bola.
Baca Juga: Kiai Said Sayangkan Pencopotan Label di Tenda Pengungsi Gempa Cianjur
Kedatangan ke Indonesia memberi tantangan dan peringatan. Kita membaca: “Agar bisa menyesuaikan diri dengan cuaca yang panas dan lembab, mereka langsung terbang ke Jakarta dan mendarat di Halim hari Minggu, langsung memborong semua kamar di lantai 9 Hotel Hilton.” Mereka mau bertanding melawan Indonesia. Hal terpenting cuaca dan makanan. Para pemain dianjurkan mengerti situasi Indonesia dan tak makan sembarangan.
Berita di Tempo tak semua harus sepak bola. Ada masalah-masalah agama. Pada saat pengurus tim memberi keterangan kepada wartawan, ada adegan memicu perhatian. “….. kata pengurus tim yang jangkung, dan bekas pemain nasional Arab Saudi itu, sambil memutar-mutar tasbihnya.”
Adegan bisa terjadi di hotel. Kita bakal terkejut bila saat pertandingan sepak bola ada pemain berlari atau berdiri di lapangan dengan jari-jari memutar tasbih.
Artikel Terkait
Kenapa Dinamakan Banyuwangi? Konon Ini Kisahnya
Dua Dokter Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional Tahun Ini
Masih Tentang Bahasa: Pergaulan dan Persaingan
Opini Bandung Mawardi: Jawab(an)