TINEMU.COM - Berbicara tentang gerakan kembali ke desa, Singgih telah mengawalinya dengan kerja nyata. Adalah Pasar Papringan Ngadiprono yang menjadi proyek percontohannya. Pasar itu adalah salah satu proyek Revitalisasi Desa Spedagi.
Ketika itu Singgih melihat papringan (kebun bambu) merupakan aset desa tak terpelihara, hanya jadi tempat buang sampah.
Atas ajakan Imam Abdul Rofiq, pemuda desa Ngadipuro, ia dan tim Spedagi, juga Fransisca Callista sebagai project manager, menyulap papringan yang kumuh, gelap, dan banyak nyamuk itu menjadi bersih tertata.
Di sana warga menjual kuliner, kerajinan tangan dan hasil pertanian.“Memulainya tidak dapat dibilang mudah,” tutur Singgih.
Tim Spedagi mengawali dengan melakukan pemetaan sosial. Warga didatangi dari pintu ke pintu. Puluhan kali pertemuan formal dan informal dilakukan barulah ditemukan konsep yang paling sesuai dengan warga dan potensi lokal.
Baca Juga: Singgih Susilo Perancang Sepeda Bambu yang Dipakai Jokowi dan PM Australia (1)
Sejak awal warga diajak turut memikirkan agar tidak terjadi kesan mereka akan menerima bantuan. Singgih ingin bukan sekadar pasar dalam arti fisik, namun sebuah aktivitas yang terorganisasi baik.
Mereka pun merekoleksi makanan desa mulai dari gatot, tiwul, wedang, gudeg, sayuran dan buah-buahan hasil bumi, makanan kering, hingga mainan kayu. Lantas mereka merekonstruksi makanan, penampilan, rasa, cara menata, mengemas dan berjualan.
Mereka hanya memakai bahan lokal, tanpa terigu, MSG, dan pewarna buatan. Sebagai ganti terigu, warga membuat tepung dari beras dan ketela.
Alat pembayaran yang dipakai adalah koin terbuat dari pring (bambu). Ide ini datang dari Liris, putri kedua Singgih yang membuat bazar sekolah dengan alat pembayaran khusus. Pring dicetak dan ditentukan nilainya. Satu pring senilai Rp2 ribu. Cara itu efektif dalam mengontrol penjualan.
Pasar tambah ramai karena propaganda gratis pengunjung yang menceritakan keunikan pasar melalui media sosial mereka. Orang berduyun-duyun datang dan menikmati desa tempo dulu, lengkap dengan penganan khas desa dan gending Jawa.
Sejak berdiri tahun 2016, sekitar 80 persen dari 110 kepala keluarga turut berdagang. Pasar dibuka dua kali selapan (35 hari) setiap Minggu Pon dan Minggu Wage, mulai pukul 6 pagi sampai pukul 12. Dibuka dua kali selapan agar ritme dan kultur desa tidak banyak berubah.
Sabtu adalah hari desa gotong-royong menyiapkan segala untuk ditampilkan di pasar. Keberadaan Pasar memberi kesegaran baru bagi warga desa. Petani menjadi lebih berpengetahuan sehingga hasil lebih produktif.