TINEMU.COM- Alam Desa Wanurejo menjadi desa penyangga wisata Candi Borobudur. Belum lama ini (28/10) diadakan Tridaya Festival yang diselenggarakan oleh pemuda dari 20 desa kawasan Borobudur. Acara ini terselenggara atas prakarsa Yayasan Putro Ngudi Utomo Martowiyono dengan membentuk manajemen MahaJava Aksata.
“Apa yang kami lakukan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa yang sudah ada sejak dulu. Sesuai namanya Tridaya adalah filosofi Jawa yang mempunyai 3 unsur yaitu cipta, rasa, dan rasa. Contohnya adalah macapatan, ritual kendi, arak-arakan tumpeng nasi kuning dan tumpeng buah, juga ada tarian. Semuanya kita kemas dalam acara budaya yang mempunyai nilai-nilai luhur untuk kerukunan bagi 20 desa kawasan Borobudur,” tutur Aris, ketua panitia Tridaya Festival.
Baca Juga: Kaum Muda dan Masyarakat Pedesaan Berisiko Tinggi Terdampak Manipulasi Media Digital
"Acara ini diadakan agar bangsa ini tidak kehilangan jati diri," lanjut Aris. Tridaya Festival dihadiri 20 kepala desa kawasan Borobudur dan kurang lebih 850 masyarakat setempat. ”Acara-acara seperti ini yang seharusnya terus dan tetap diadakan dengan mempersatukan kerukunan dalam bentuk acara budaya. Saya mengapresiasi hasil karya ini bagi pemuda dari 20 desa kawasan Borobudur yang diwadahi oleh Yayasan Putro Ngudi Utomo Martowiyono. Harapan saya kegiatan-kegiatan seperti ini dapat membawa kemajuan positif bagi kawasan Borobudur," kata Subiyanta, Camat Borobudur.
Yayasan Putro Ngudi Utomo Martowiyono berdiri sejak 2014. Berdirinya yayasan sosial budaya ini merupakan bentuk penghargaan atas dedikasi tokoh budaya asal Sleman Yogyakarta, alm. Martowiyono. Para pengurus dan anggota dari yayasan ini berasal dari berbagai daerah di nusantara dengan latar belakang berbeda.
Salah satu kegiatan yayasan ini adalah memberdayakan masyarakat sekitar dengan menggelar kegiatan reguler di Dusun Jowahan, Wanurejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lewat sanggar yang diberi nama Omah Sanggar Warisan Budaya Nusantara (OSWBN) mereka menggelar berbagai kegiatan pendidikan gratis untuk masyarakat.
Baca Juga: Sebelas Benda Budaya Indonesia Tampil di Jalan Nusantara di Markas Besar UNESCO
"Sesuai namanya, Omah Sanggar ini akan digunakan untuk sejumlah kegiatan pembelajaran gratis untuk masyarakat. Semua program itu berbasis nilai kerakyatan tradisi nusantara dan kearifan lokal," kata Pembina Yayasan Putro Ngudi Utomo Martowiyono, Elisabeth Nur Hidayah.
Dari setiap kegiatan Omah Sanggar pula, ada kontribusi positif terhadap kelestarian lingkungan lereng perbukitan Menoreh. Tempat ini akhirnya menjadi media berekspresi masyarakat di bidang seni budaya dan pelestarian alam di lereng Menoreh. **
video : Lutfi Risdian (dok.MahaJava Aksata)
Artikel Terkait
Magelang di Kalender
Lima Negara ASEAN Usulkan Kebaya Ke ICH UNESCO Sebagai Nominasi Bersama
Sumbu Kosmologis Yogyakarta dan Penanda Bersejarahnya Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO
Sebelas Benda Budaya Indonesia Tampil di Jalan Nusantara di Markas Besar UNESCO