TINEMU.COM – Hajatan besar seni rupa dengan sajian beragam ekspresi cinta dari para seniman yang sarat dengan pesan-pesan tentang perlunya kesadaran kolektif akan tatanan sosial, budaya dengan bahasa simbolis penuh cinta yang indah dan elegan.
Seniman Joko Avianto misalnya mempersembahkan sebuah karya instalasi bertajuk “Lawon Balebat”. Sebuah Struktur drapery yang membalut, merambat pada fasad JDC merupakan simbol perlindungan terhadap budaya dan identitas yang semakin terkikis.
Lawon sebagai pelindung budaya menghadapi "balebat" atau tekanan perubahan zaman. "Lawon Balebat" ingin menggugah kembali kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga identitas budaya sebagai pelindung bagi jiwa manusia dan alam, sembari menghargai keterhubungan erat antara keduanya dalam kearifan lokal. Demikian ungkap Joko Avianto mengenai karyanya.
Joko menambahkan; “Lawon Balebat pada fasad JDC saya tempatkan secara bentuk, mengingatkan pada permasalahan “batas”, misalnya batas luar dan dalam atau misalnya batas suci dan tidak suci pada tempat ibadah”.
Pada karya saya di Jepang yang berjudul “The Border between good and evil is terribly freezy”2017, pada saat itu karya ini adalah interpretasi dari Shimenawa, sebuah bentukan tergulung-melintir terbuat dari jerami yang digunakan sebagai symbol batas pada kuil. Papar Joko Avianto.
Catatan: Dalam bahasa sunda; lawon berarti kain, dan balebat adalah rama, atau cahaya dari ufuk timur di saat pagi hari.
Kemudian pada karya ke dua Joko Avianto yang terpampang di ruang pamer yang elegan di Gedung Jakarta Design Center, sebuah anyaman acak berpola membentuk pulau Borneo dan Kalimantan dengan tambahan bentukan otot dan daging lembu.
Joko Avianto memberi nama karya itu; The Borneo; topography of meat, merupakan simbolisasi hewan mitos lembuswana yang terekspos otot dan daging pada sisi dextra anatominya.
Hadir tanpa sayap, belalai, taring, taji, gading apalagi mahkota, seakan hewan mitos ini berkurang dayanya. Melekat tetapi terkelupas dengan bantukan pulau borneo adalah ungkapan wilayah fantasi formal dari topografi pulau Borneo. Jelas Joko.
Menurut tim kurator Mikke Susanto dan Gie Sanjaya, Pameran seni rupa bertajuk "ART LOVE YOU" adalah sebuah perayaan tanpa batas yang menolak pengkotakan disiplin ilmu kreatif.
Di sini, seni menjadi ruang tanpa sekat, di mana ekspresi cinta mengalir bebas melintasi batasan-batasan konvensi antar berbagai bentuk seni dan kreativitas.
Festival ini menyatukan berbagai jenis karya—dari seni hingga teknologi—dalam satu harmoni yang mewakili cinta sebagai kekuatan transformatif dan universal.
Alih-alih mendefinisikan seni berdasarkan kategorisasi yang kaku, Art Love U merayakan kekayaan ekspresi kreatif dalam segala wujudnya sesuai dengan tag Jakarta Design Center yaitu #premium hub of art, #design community & commerce.
"ART LOVE YOU" meruntuhkan dinding pemisah antara seni rupa , desain, musik, film, sastra, hingga teknologi digital. Cinta, dalam konteks festival ini, dilihat sebagai bahasa universal yang tidak mengenal batasan, baik dari segi media maupun gagasan.
Pengunjung diundang untuk melampaui batas-batas konvensi dalam menikmati dan memahami seni, karena cinta dan kreativitas hadir dalam setiap bentuk interaksi manusia dengan dunia dan sesamanya.