'Koesroyo The Last Man Standing' Ungkap Sisi Lain Anggota Koes Plus

photo author
Donny Anggoro, Tinemu
- Selasa, 26 November 2024 | 12:02 WIB
Cuplikan film Koesroyo (istimewa)
Cuplikan film Koesroyo (istimewa)

TINEMU.COM-Berdurasi 61 menit, dokumenter biografi ini adalah sebuah dokumenter tentang kehidupan dan perjalanan musik Koesroyo Koeswoyo atau lebih dikenal sebagai Yok Koeswoyo. Dokumenter ini mengajak penonton untuk dekat sekali dengan Yok sebagai anak keturunan bangsawan dari Tuban yang sebenarnya dilarang oleh ayahnya untuk bermain musik, tetapi justru membentuk sebuah band bersama saudara-saudaranya hingga mereka menjadi salah satu band ikonik Indonesia yang dikenal sebagai Koes Plus.

"Papa di luar boleh aja rockstar legend tapi di rumah dia manusia biasa," kata Sari Yok Koeswoyo, putri Yok dalam film yang disutradarai Linda Ochy ini.

"Lewat lagunya terutama Nusantara, Koes Plus lewat Yok adalah salah satu musisi yang menggagas persatuan bangsa sudah sejak lama lewat musik," ungkap David Tarigan dari Irama Nusantara-kolektif pengarsipan karya rilisan musik Indonesia- salah satu narasumber film ini.

official poster Koesroyo The Last Man Standing
official poster Koesroyo The Last Man Standing (foto istimewa)

Baca Juga: Jakarta Blues Festival 2024 Siap Mengguncang Kemang

Banyak cerita yang mungkin baru terungkap seusai menonton film Koesroyo The Last Man Standing. Misalnya salah satu lagu hits Koes Plus, Ku Jemu, yang memang mencerminkan rasa kebosanan sesungguhnya Yok saat menjadi anggota Koes Plus/Koes Bersaudara.

"Kami memang merasa jemu, bikin lagu, rekaman, nyaris sampai jarang pulang. Lebih banyak makan, tidur juga di studio rekaman. Kalo keluar cuma manggung, begitu aja terus," kata Yok mengungkapkan proses kreatifnya membuat lagu Jemu.

Koes Plus memang di masanya termasuk paling produktif (bahkan cenderung dieksploitasi dengan juga merekam lagu-lagu yang memang diperuntukkan di kaset rekaman saja. Misalnya mereka juga merekam Pop Jawa, Pop Rock Bahasa Inggris, keroncong, qasidah, Pop Anak-Anak, Pop Natal, dll) di industri rekaman Indonesia-terutama di era kaset pita era 1970 dan 1980-an. Karena di saat produksi kaset pita booming, di situlah era pasar dan industri musik Indonesia sesungguhnya (ada perputaran nilai ekonomi) jika dibandingkan di era piringan hitam yang cenderung eksklusif.

Sari dan Yok saling bertukar cerita
Sari dan Yok saling bertukar cerita (foto istimewa)

Baca Juga: Usai Tuai Kesuksesan di Kejuaraan Dunia IESF, Timnas Esports Indonesia Tancap Gas ke Asian Esports Games 2024

"Dulu kita disuruh bikin lagu sebanyak-banyaknya, orang studio (diantaranya Mesra Records) yang menyusun," cetus Yok. Tentu ini fakta yang agak berbeda dengan kondisi yang dialami band atau penyanyi lain pada umumnya yang sudah punya konsep atau mengajukan terlebih dahulu ke produser label rekaman.

Menariknya di sini juga terkuak kisah di balik lagu hits Why Do You Love Me. Yok menciptakan dengan perasaan haru tatkala sebelum menikahi Maria Sonya Tilaar-yang dikenal Yok semasa jadi pramugari Garuda. "Ibumu punya ini itu, pengusaha juga, kok bisa suka sama aku yang cuma pengamen," jelas Yok kepada Sari seraya matanya berkaca-kaca.

Yok tak kuasa menahan tangisnya apalagi sang istri meninggal dalam peristiwa kecelakaan mobil. "Papa berjuang jadi single parents, saya dan adik sering dititipkan Bude. Pernah Papa waktu pulang ke rumah sudah pagi hari bawa roti, sedangkan kami baru mau pergi sekolah," kenang Sari.

alternative fficial poster The Last Man Standing
alternative fficial poster The Last Man Standing (foto istimewa)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Donny Anggoro

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X