ABAS Gelar Pameran Be Yourself #2 di 75 Gallery, 1-14 Des 2024

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Kamis, 5 Desember 2024 | 23:27 WIB
Agus Budiyanto foto bersama anggota ABAS dalam pameran Be Yourself#2 di 75 Gallery
Agus Budiyanto foto bersama anggota ABAS dalam pameran Be Yourself#2 di 75 Gallery

Partisipan Pameran ABAS
Agus Budiyanto, dengan judul Chinese Heritage, ukuran 110 x 110 cm, rupanya ingin menyalin cara klasik yang disebut oleh Xie He dengan pendekatan lebih modern, dengan cara meletakkan semacam lapis-demi lapis sehingga terlihat bertumpuk dengan elok warna oker, kuning, merah dan biru. Ia memang piawai menggunakan dimensi-dimensi tertentu yang melukiskan bidang tak sekedar bidang namun seolah terbangun seperti bukan dwi matra namun memiliki kesan trimatra.

Sementara Vera Eve Lim, seperti katanya “sering kali hasil lukisan tidak seperti apa yang dibayangkan, acapkali ide baru timbul ditengah menyapukan cat air, membuat goresan atau semprotan air yang meninggalkan granularity indah yang tidak terpikirkan sebelumnya’; sesuai degan karyanya trptyh-nya Rolling Dragon berukuran 76 x 168 cm mencerminkan kemampuan lumayan.

Sedangkan Niken Vijayanti dengan karya Lost in the Cosmic berukuran 76 x 56 cm, berupaya mencampurkan teknik kering dan basah cat air secara sepadan, selain kesukaanya bereksplorasi dari yang bermain-main dalam imajinasi sampai ke gambaran kehidupan nyata keseharian.

Basrie Kamba, dalam perjalanan hidupnya sebagai ingin memindahkan “lansekap alam ke kanvas”, dengan karyanya “81 Degree North” menggunakan referensi foto yang diambil, membawa kita keindahan alam wilayah Arctic di Kutub Utara.

Jika di Jawa, ia “memotret” Gunung Merapi dengan From the Foot of Merapi berukuran 19 x 130 cm. Enda Ginting bermain-main dengan siluet, sosok-sosk enigmatik yang mempertemukan Teknik basah dan kering bersamaan, ia menggambarkan seperti semacam diary, tatkala kita lihat di karyanya Our Moment of Solitude berukuran 76 x 56 cm itu.

Sementara itu, karya Vasunda Sur dengan Resonance of Radiance berukuran 76 x 56 cm bercorak abstraktif, mengeksplorasi berbagai kemungkinan bentuk-bentuk, garis serta adonan warna dalam serial-serial lukisannya yang lain juga.

Arsitek dan pelukis senior ini, Baskoro Sardadi, membawa kita pada kemungkinan garis-garis tajam geometrik yang abstraktif, menyalin bentuk di alam nyata dengan cara membeda, dan kita merasakan karya Geometri Kebersamaan ukuran 56 x 38 cm sebagai bentuk rumah yang unik dan intim.

Elia Aryanus, dengan karya single-nya mencoba membuat lukisan teknik kering dan menyalin sosok penari dan dibiarkan out-line tubuh memberi kesan-kesan pada lukisan Balinese Elegance berukuran 76 x 56 cm.

Dyah Prestyorini dengan karya Beauty in the Dark berukuran 60 x 45 cm mempertemukan baik teknik basah dan kering cat air dalam menjelajah dunia laut, yang tentu bisa kita saksikan dalam lukisan lain.

Sementara itu, karya berteknik kering cat air, yakni dengan judul Bukan Kentang berukuran 56 x 76 cm, karya Tianty Trisna Dewi membawa juga kisah keseharian apa yang dilihat dan ia rasakan, juga sesekali menggunakan bahasa simbolik tentang balon-balon.

Karya Sea Creature berukuran 76 x 56 cm dari Lita Husin, membawa kita kembali kekuatan meleleh, menciprat dan juga aspek transparansi air di medium cat air, dan ia elok mengendalikan komposisi serta teknik yang tentunya membawa harmoni dalam lukisan.

Regina Busono mencoba menggambarkan alam senyatanya dengan karya Dancing Waves berukuran  38 x 56 cm sebagai ajang eksperimentasi awal bahwa kemampuan teknik cat air tak pernah usai dipelajarinya.

Kita juga menjenguk Darmilia Saliawati yang memiliki sensifitas menggunakan karakter cat air, seperti di karya Blissfull Bloom dengan ukuran  51 x 36 cm ini, ia cakap menyentuh kelembutan air sekaligus mempertegasnya silih berganti atas kesan-kesan “kebasahan” khas air.

Pada pelukis lain, dengan  Syska Diranti Ventia rupanya menyukai bahasa-bahasa simbolik, terutama tubuh manusia, yang mungkin adalah kontemplasi sosok dirinya sendiri, ia menggunakan Teknik kering dan basah dalam cat air seperti kita lihat di Luceat Lux Vestra beukuran 76 x 56 cm.

Sementara Dumasi Marisina Magdalena Samosir dengan karya Mola Mola of Nusa Penida berukuran 56 x 76 cm memyelemai dunia bawah laut dari tempat wisata serta area-area lain. Karya tunggalnya di pameran ini menggunakan teknik basah dan kering secara bersamaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

X