Film Terbaru Joko Anwar Angkat Isu Kekerasan Rasial

photo author
Donny Anggoro, Tinemu
- Minggu, 2 Februari 2025 | 00:47 WIB
Morgan Oey dan Joko Anwar (foto Arman Febryan)
Morgan Oey dan Joko Anwar (foto Arman Febryan)

TINEMU.COM — Film Pengepungan di Bukit Duri karya terbaru sutradara Joko Anwar menandai babak baru dalam karir perfilmannya setelah 20 tahun berkarya. Kali ini ia mengusung genre yang belum disentuh sebelumnya yaitu drama aksi. Dibintangi oleh Morgan Oey, Omara Esteghlal, dan Hana Pitrashata Malasan, film ini sudah mendapatkan jadwal tayang pada 17 April 2025 di bioskop Indonesia. 

Selain tema drama aksi yang baru kali ini dilakukan Joko Anwar, film  yang dikerjakan di rumah produksi Come and See Pictures ini bekerja sama dengan MGM Amazon Studios. Film ini adalah film kedua produksi  Come and See Pictures setelah Siksa Kubur yang meraih 17 nominasi Piala Citra dan mendapatkan lebih dari 4 juta penonton.

Pengepungan di Bukit Duri (beredar dengan judul internasional The Siege at Thorn High) mengisahkan Edwin (Morgan Oey), berjanji pada kakaknya sebelum meninggal untukmenemukan anak kakaknya yang hilang. Pencarian Edwin membawanya menjadi guru di SMA Duri, sekolah untuk anak-anak bermasalah. Di sana, Edwinm menghadapi murid-murid paling beringas sambil mencari keponakannya. Saat ia menemukan sang keponakan, kerusuhan pecah di seluruh kota, dan mereka terjebak di sekolah, di tengah anak-anak brutal yang kini mengincar nyawa mereka.

Baca Juga: Segera Tayang Film Animasi 'Jumbo' Produksi Visinema

"Film ini menjadi tantangan terbesar saya selama berkarir di film. Bukan saja secara teknis film ini harus menunjukkan kualitas yang tinggi karena bekerja sama dengan perusahaan film Hollywood legendaris yang punya standar tinggi, tapi ceritanya harus mencerminkan negeri kita saat ini,” kata Joko Anwar.

Cast and crew Pengepungan di Bukit Duri, Plaza Senayan XXI, Jakarta (31/1)
Cast and crew Pengepungan di Bukit Duri, Plaza Senayan XXI, Jakarta (31/1) (foto Arman Febryan)

“Kami ingin semua yang terlibat dalam film ini, pemain, kru, dan Come and See Pictures naik kelas dengan membuat film yang setara dengan film-film dunia yang berkualitas tinggi,” kata produser Tia Hasibuan.

Dalam trailer yang mendebarkan sepanjang durasinya, Edwin harus bertahan hidup di negeri yang berkecamuk. Bergabung bersamanya, Diana (Hana Pitrashata Malasan), Edwin harus menghadapi tekanan masyarakat yang dilanda konflik rasial dan gejolak yang semakin memanas di sekolahnya, sambil menjalankan misi menemukan keponakannya yang hilang.

Baca Juga: Film 'Samawa' Angkat Tema KDRT dalam Pernikahan

Sementara, melansir sebuah penelitian yang dirilis WHO, penelitian di 40 negara berkembang menunjukkan rata-rata 42% anak laki-laki dan 37% anak perempuan mengalami perundungan. Di Indonesia, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bersama Badan Pusat Statistik (BPS), Lembaga Demografi Universitas Indonesia, Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos), dan UNFPA merilis laporan Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) dan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2024. Dari data tersebut, dilaporkan sekitar 11,5 juta atau 50,78% anak usia 13-17 tahun, pernah mengalami salah satu bentuk kekerasan atau lebih di sepanjang hidupnya.

Film ini bukan hanya akan menjadi tontonan yang menghibur karena dikemas dengan genre segar dan penceritaan menarik. Dengan dukungan dari para pemeran berbakat dan studio besar Hollywood, film ini juga membawa isu yang sangat penting dan relevan untuk diketahui lebih banyak masyarakat Indonesia.**

 

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Donny Anggoro

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X