Tulisan khusus Dzulfikri Putra Malawi
TINEMU.COM - “Kita bikin musik yang kita suka. Soal terkenal, urusan nanti.” Tegas Lanlan Strangers, seorang musisi yang baru saja merilis debut album solonya. Bagi Lanlan Strangers, kalimat itu bukan sekadar nostalgia. Ia adalah gema dari semangat remaja yang menolak tunduk pada kalkulasi industri dan pasar, pada masa ketika musik adalah letupan jiwa, bukan sekadar konten. Bersama Strangers (kemudian dikenal sebagai STRNGRS), ia menapaki awal milenium dengan gitar, lirik, dan keyakinan naif namun jujur. Bahwa musik bisa menyelamatkan dunia, atau setidaknya, menyelamatkan diri sendiri.
Lanlan Strangers adalah musisi otodidak yang besar di skena Britpop indie Bandung era 2000-an. Bersama STRNGRS, ia meluncurkan album Everything Goes Automatic (2008) dan sejumlah single yang menjadi soundtrack film dan program televisi. Setelah malang melintang bersama sejumlah band, termasuk NOAH, ia memilih jalur solo melalui proyek IDIOFON.
Musik IDIOFON bisa digambarkan sebagai retro-modern alternative rock dengan nuansa British yang pekat. Lirik-liriknya adalah hasil kolaborasi emosional dengan istrinya, seorang akademisi sastra, yang meramu kata dari peristiwa dan kenangan yang membekas. Ini bukan sekadar proyek musik, tapi catatan hidup dalam bentuk lagu.
Baca Juga: Record Store Day Indonesia 2025: Rayakan Musik di Toko Rilisan Fisik
Lanlan Strangers adalah seorang musisi yang terlahir dari skena musik indie tahun 2000-an di Bandung. Dia menulis semua 11 lagu untuk band pertamanya, Strangers yang kemudian merubah tipografinya menjadi STRNGRS. Album pertama Strangers bertajuk Everything Goes Automatic diluncurkan pada Januari tahun 2008 dan terdiri dari 10 lagu, sembilan lagu berbahasa Inggris, dan satu lagu berbahasa Indonesia berjudul Tangisan Ibu Pertiwi yang kemudian menjadi OST untuk film Minggu Pagi di Victoria Park garapan sutradara Lola Amaria. Menyusul single berikutnya dari STRNGRS berjudul Bonfire dirilis September tahun 2012 yang kemudian menjadi OST untuk program YouTube dan Televisi Jalan-Jalan Men.
Kini, dua dekade setelahnya, IDIOFON hadir membawa Resurrecting Strangers, sebuah album debut yang secara sadar dan pelan-pelan membangkitkan kembali bara itu. Bukan dengan teriakan, tapi dengan gumam panjang yang dalam dan sadar usia. Dirilis pada Jumat kedua pasca-Ramadhan 1446 H, album ini bukan sekadar karya solo. Ia adalah bentuk kontemplasi, semacam elegi untuk masa lalu, sekaligus ajakan untuk tidak menyerah pada keraguan hari ini.
Seluruh lagu dalam Resurrecting Strangers ditulis, diaransemen, dan diproduksi oleh Lanlan bersama istrinya, Tiana Marie Ennamorati, dari sebuah studio mungil di kamar tidur mereka di Tangerang Selatan. Proses yang tidak hanya menunjukkan kemandirian teknis, tapi juga keintiman kreatif yang jarang ditemui hari ini. Mixing dan mastering dilakukan oleh Gio Guidi di Opera Studio, dengan pengecualian satu lagu berjudul Hindsight 20/20, yang Lanlan tangani sendiri—sebuah pilihan yang jujur dan berani, mirip dengan semangat awal STRNGRS.
Baca Juga: Cerita Inspiratif UMKM Kembangkan Potensi Sepatu Lokal Lewat Shopee
“Ada lagu-lagu dalam album ini yang saya dedikasikan secara personal, dua di antaranya untuk mereka yang telah memberi warna dalam hidup saya: Salvador untuk Pratiwi Juliani, dan The Director untuk almarhum Richard Oh—sebuah lagu yang seperti doa yang dinyanyikan dalam sunyi. Satu lagu lainnya, Let Things be Things, ditulis bersama anak saya, Safa Kilau Arabella,” ungkap Lanlan.
Mungkin inilah bentuk paling jujur dari regenerasi musikal: bukan warisan megah, tapi momen kecil yang tumbuh bersama di antara nada dan kata. Sejak merilis Hindsight 20/20 di akhir 2020, IDIOFON tidak pernah menjanjikan penampilan live di atas panggung. Musiknya adalah lanskap sunyi, ruang-ruang refleksi, dan cocok untuk didengarkan sambil memandangi hujan dari balik jendela atau menulis catatan harian yang tak pernah rampung.
Lanlan sendiri menyebut karyanya lebih cocok jadi soundtrack film. Memang terasa begitu adanya. Lagu-lagu dalam IDIOFON seperti montase perasaan yang menyentuh tanpa harus menjelaskan secara gamblang. Mereka tidak memaksa, tapi pelan-pelan merayap, mengisi ruang batin yang kita sendiri tak tahu sedang kosong.
Artikel Terkait
Sebelum Tur ‘Japan Pop Journey’, D’Masiv Beri Penghormatan untuk Ciledug
Record Store Day Yogyakarta Siap Digelar: Tumpah Ruah Gigs, Aneka Merchandise dan Rilisan Musik
'Semua Akan Punk Pada Waktunya' Siap Guncang Pamulang 15 Juni!
Shoemaker Studios 2.0 Bangun Ekosistem untuk Musisi