Mungkin karena basis utama dokumenter ini adalah penuturan dari para personel, secara sinematografi penyajian film ini terasa agak membosankan dan monoton. Kita seperti menyimak tiga orang kakek menceritakan awal masuk dunia kerja, bagaimana rasanya tidak langsung diterima, namun jalan terus berusaha kuat.
Baca Juga: Menikmati Keindahan Alam Indonesia dari Jendela Kereta Panoramic
Meski begitu kedalaman riset film ini sungguh terasa. Kita benar-benar dilempar untuk mengarungi waktu ketika musik bisa terasa begitu intim, ketika musisi menciptakan karya penuh pertimbangan, ditunjang keterampilan luar biasa.
Dari film ini kita saksikan Led Zeppelin selalu tampil di panggung yang simpel dan kompak (bahkan terkesan sempit), meskipun main di tempat nan megah dan lapang. Panggung tersebut memberi kesan betapa ikatan kreativitas mereka menyatu dengan kental dan saling menguatkan.
Baca Juga: Lagu Baru MIkha Tambayong Ajak Pendengarnya Bangkit Dari Keraguan
Bagi fans garis keras, dokumenter ini tentu sangat menyenangkan disaksikan, sebab menampilkan sesuatu yang baru dan detil yang langka. Sementara bagi fans rock/heavy metal secara umum, film ini menambah sejarah tentang terbentuknya salah satu dinosaurus di genre musik yang keras nan gegap-gempita.**
Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis. Blog: halamanganjil.blogspot.com. IG: @anwarholid
Artikel Terkait
Film 'SORE: Istri dari Masa Depan' Tayang 10 Juli 2025
Film 'Tabayyun' Siap Kuras Air Mata Penonton 8 Mei 2025!