Film Terbaru Teddy Soeriaatmadja Angkat Isu Keluarga dan Trauma

photo author
Donny Anggoro, Tinemu
- Selasa, 6 Mei 2025 | 22:19 WIB
Ine Febriyanti,Tissa Biani dan Teddy Soeriaatmadja (foto Chairul Ichsan)
Ine Febriyanti,Tissa Biani dan Teddy Soeriaatmadja (foto Chairul Ichsan)

TINEMU.COM- Film Mungkin Kita Perlu Waktu (All We Need is Time) menceritakan renggangnya hubungan sebuah keluarga pasca kematian si anak sulung (Naura Hakim). Keluarga yang terdiri dari Restu (Lukman Sardi), Kasih (Sha Ine Febriyanti), dan Ombak (Bima Azriel) ini dari luar tampak baik-baik saja, namun masing-masing dari mereka menyimpan luka yang membuat rumah mereka terasa tidak lagi sama.

Mengambil sudut berbagai sudut pandang tiap masing-masing anggota keluarga dalam menghadapi kedukaan, film terbaru sutradara Teddy Soeriaatmadja yang dijadwalkan tayang di seluruh bioskop pada 15 Mei 2025 ini berpesan bahwa setiap orang punya cara yang berbeda dalam menghadapi luka dan perasaannya. Film ini dipercantik dengan lagu-lagu OST atau soundtrack Waking Up Together with You dari Ardhito Pramono dan Tak Terima yang dibawakan Sheila Dara Aisha dan Donne Maula.

Digarap oleh rumah produksi Kathanika Films, Adhya Pictures, dan Karuna Pictures, sutradara, penulis naskah, sekaligus produser Teddy Soeriaatmadja mengaku ide ceritanya sudah ada sejak tahun 2022. “Saat pandemi di tahun 2022, saya punya banyak waktu di rumah. Masa-masa ini menjadi refleksi saya mengenai keluarga, bagaimana keluarga bisa berfungsi secara sehat terlepas dari formatnya, apakah keluarga kandung, sambung, menikah, bercerai, antara anak dan orang tua, lalu suami dan istri,” katanya setelah Gala Premiere dan jumpa pers di Epicentrum XXI, Jakarta, Selasa, 6 Mei 2025.

Baca Juga: Becoming Led Zeppelin, Cerita Tiga Kakek Rocker dan Wawancara Langka John Bonham

“Yang ternyata menarik untuk dieksplor adalah konflik-konflik subtil yang terjadi sehari-hari karena masalah komunikasi. Merupakan sebuah tantangan untuk menciptakan cerita yang driven-nya berasal dari emosi yang terpendam, suasana canggung, dan ekspektasi yang menjadi beban. Hal yang tidak meledak-ledak tetap punya power untuk mengikis dari dalam,” lanjut Teddy.

Cerita film yang ditulis selama 3 bulan ini turut mengangkat kesadaran tentang isu mental health yang masih rendah di masyarakat. Dengan menampilkan akting dari dua aktor-aktris muda, Bima Azriel (Ombak) dan Tissa Biani (Aleiqa). Untuk mendalami peran ini, Bima dan Tissa kompak melakukan riset mandiri mengenai kesehatan mental ke orang terdekat, mencari referensi bacaan, berdiskusi dengan Sutradara, hingga mencari tahu dari psikolog profesional.

Official poster Mungkin Kita Perlu Waktu
Official poster Mungkin Kita Perlu Waktu (Adhya Pictures)


“Memerankan seseorang yang memiliki kondisi kesehatan mental itu nggak mudah, sebisa mungkin aku ingin merepresentasikan mereka dengan baik namun tetap apa adanya. Paham kesulitan mereka, paham cara mereka membawa diri di depan orang. Aku juga latihan gestur, cara melihat, sampai cara bicara orang seperti Aleiqa yang mood-nya naik turun,” ujar Tissa Biani.

Baca Juga: Film 'Tabayyun' Siap Kuras Air Mata Penonton 8 Mei 2025!

Film Mungkin Kita Perlu Waktu juga merupakan film pertama Kathanika Films yang berkolaborasi dengan Adhya Pictures. "Kami di Adhya Pictures selalu ingin menghadirkan karya dengan kekuatan cerita yang relevan bagi masyarakat. Film ini ingin berbicara kepada setiap kita yang adalah bagian dari keluarga, entah sebagai anak, kakak, adik, dan orang tua tentang sebuah isu yang seringkali tidak dapat terucap. Semoga melalui film ini pengalaman-pengalaman trauma maupun isu-isu kesehatan mental yang selama ini tersembunyi, dapat sedikit demi sedikit mulai dibicarakan antara anggota keluarga," ujar Ricky Wijaya, Produser Eksekutif.

"Film ini memiliki pesan penting dan ingin memberi dampak positif bagi masyarakat," lanjutnya.

"Restu adalah gambaran nyata tentang bagaimana seorang ayah, suami, dan kepala keluarga memikul peran sebagai pelindung yang selalu tampak kuat. Tapi di balik ketegaran itu, ada rasa sakit yang sering dipendam sendiri. Lewat karakter ini, saya ingin menunjukkan bahwa menjadi laki-laki, menjadi ayah, bukan berarti harus selalu tegar—karena mengakui kerapuhan dan mau menerima pertolongan adalah bentuk keberanian yang sesungguhnya," jelas Lukman Sardi pemeran Restu, yang juga berperan sebagai Produser Eksekutif.**

 

 

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Donny Anggoro

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X