TINEMU.COM - Tytyan Indah Bekasi - Agustus di Indonesia selalu punya warna yang berbeda. Udara mungkin tetap sama panasnya, jalanan tetap padat, dan berita politik tetap gaduh, tapi begitu tanggal 17 mulai mendekat, ada sesuatu yang mengisi ruang-ruang kecil di hati warga: semangat merayakan kemerdekaan.
Dari gedung-gedung tinggi di ibu kota sampai gang sempit di kampung, semuanya ikut bergembira.
Uniknya, hanya di negeri ini, perayaan kemerdekaan bisa turun sampai ke tingkat RT. Bayangkan, di sebuah kompleks perumahan atau gang sederhana, berdirilah panggung kayu seadanya, dihias balon merah putih, dengan pengeras suara yang kadang lebih berisik daripada jernih.
Tapi justru dari situlah lahir kegembiraan yang otentik, karena panggung itu adalah milik semua orang.
RW 12 Tytyan Indah Kalibaru, Kota Bekasi, tahun ini tak mau ketinggalan. Dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-80, mereka menggelar Panggung Gembira sebagai puncak rangkaian lomba—dari makan kerupuk, sepeda hias, karaoke, sampai gaple. Semua kompetisi itu adalah bumbu; panggung adalah pesta utamanya.
Dan benar saja, malam itu panggung setinggi 50 cm, berukuran 4 x 6 meter, menjadi pusat tawa, sorak, dan kebanggaan seluruh warga.
Dari Doa ke Zapin
Acara dimulai dengan protokol yang penuh khidmat: MC membuka dengan di awali menyanyikan lagu indonesia Raya, lalu sambutan dari ketua panitia, Ibu Lurah Kalibaru, Ketua RW 12, dan pembacaan doa. Setelah itu dilanjut dengan pemotongan tumpeng oleh Ibu Lurah Kalibaru didampingi, Ketua RW 12 serta tokoh-tokoh masyarakat. Setelah itu lampu sederhana menyorot ke arah panggung. Tirai kegiatan pun dibuka.
Penampilan pertama datang dari Ibu-ibu PKK. Sembilan orang tampil dengan kompak menarikan Tari Zapin. Walau terlihat kepanasan dalam balutan baju adat, semangat mereka tak luntur. Gerak tangan dan kaki yang penuh ritme menjadi tanda bahwa energi ibu-ibu ini bisa menyulut semangat siapa saja. Sorakan penonton pun mengalir deras.
Belum reda tepuk tangan, giliran anak-anak RT 02 yang naik ke panggung. Tujuh anak kecil dengan wajah sumringah menarikan tarian anak. Gerakan mereka jauh dari seragam, kadang mendahului musik, kadang terlambat beberapa detik. Tapi justru di situlah letak hiburannya.
Penonton tertawa, tersenyum, sekaligus bangga melihat anak-anak yang kelak jadi penerus bangsa tampil penuh percaya diri.
Dance Bola-Bale, Hadroh, dan Gebyar-Gebyar