TINEMU.COM - Sepekan setelah Hari Raya Idulfitri sebagian besar masyarakat menggelar tradisi syawalan. Hajatan syawalan menjadi tradisi khas masyarakat Indonesia sebagai wadah untuk menyambung tali silaturahmi usai menunaikan ibadah di bulan suci Ramadan.
Tak terkecuali bagi masyarakat di sepanjang pantai utara (pantura) Jawa Tengah, seperti di Pekalongan. Mereka memiliki tradisi unik yang digelar tiap sepekan setelah Idulfitri, yakni memotong kue lopis raksasa.
Tradisi syawalan ini sempat ditiadakan saat pandemi Covid-19 merebak. Namun pada 2023 Pemerintah Kota Pekalongan mengizinkan tradisi potong lopis raksasa untuk digelar kembali pada Sabtu 29 April 2023, seminggu setelah perayaan Idulfitri 1444 H.
Baca Juga: Buruan Daftar, Beasiswa Pendidikan Indonesia 2023 Resmi Dibuka
Bagi masyarakat Pekalongan, tentu tradisi potong lopis raksasa menjadi hal yang paling ditunggu di bulan Syawal karena mampu mempererat tali silaturahmi.
Lopis atau lupis, makanan berbahan dasar ketan khas Krapyak, Pekalongan, memang memiliki daya tarik dan filosofi budaya tersendiri. Lopis mengandung suatu nilai filosofis tentang persatuan dan kesatuan seperti tertuang dalam sila ketiga Pancasila.
Di Kota Pekalongan, lopis hanya dibuat dan dijumpai pada bulan Syawal usai Ramadan. Untuk menemukan pedagang lopis, tidak terlalu sulit. Anda dapat menjumpai para pedagang lopis menjajakan dagangannya di sepanjang jalan Truntum, Jlamprang, dan Jatayu.
Baca Juga: Cerbung: Pahlawan Padang Gurun (58)
“Festival lopis raksasa ini perlu dijaga dan dipelihara bersama sebagai tradisi dan budaya turun-temurun yang dimaksudkan untuk mempererat tali silaturahmi antara warga Krapyak dan dengan masyarakat daerah sekitarnya,” ujar Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid.
Tahun ini, lopis raksasa dibuat setinggi sekitar 2 meter, berat hampir 2 ton, serta lebar 250 cm. Makanan versi jumbo ini diletakkan di Taman Lopis dekat Sungai Krapyak.
Kearifan Lokal
Syawalan merupakan kearifan lokal masyarakat Pekalongan sebagai hasil persinggungan Islam dan kultur Jawa. Menurut sejarah asal-muasal tradisi lopis raksasa ada sejumlah pendapat.
Baca Juga: “Keimanan” Mi Instan
Konon, tradisi lopis raksasa dipelopori oleh KH Abdullah Sirodj, ulama asal Krapyak, Putra Martoloyo II. Ia merupakan keturunan Tumenggung Bahurekso, salah satu senopati kerajaan Mataram di Pekalongan yang merupakan tokoh legendaris Babad Pekalongan.
Artikel Terkait
Selain Nyadran Ada Megengan, Tradisi Masyarakat Jawa Menyambut Ramadhan
Laskar Rempah Telusuri Jejak Sejarah dan Nikmati Tradisi Pekande-kandea di Baubau-Buton
Review The Ballad of Narayama; Tradisi Membiarkan Orang Tua untuk Mati di Gunung
Festival Tradisi Nusantara Satu Abad NU Dihadiri Presiden Jokowi
Inilah Keseruan Cian Cui, Tradisi Perang Air di Selatpanjang