Sarat Makna, Menparekraf Sandiaga Uno Ikuti Tradisi "Tepung Tawar"

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Minggu, 30 Juli 2023 | 21:12 WIB
Menparekraf Sandiaga Uno mengikuti prosesi tradisi Tepung Tawar di Desa Wisata Pulau Penyengat, Tanjung Pinang pada 29 Juli 2023. (kemenparekraf.go.id)
Menparekraf Sandiaga Uno mengikuti prosesi tradisi Tepung Tawar di Desa Wisata Pulau Penyengat, Tanjung Pinang pada 29 Juli 2023. (kemenparekraf.go.id)

TINEMU.COM - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengikuti prosesi tradisi "Tepung Tawar" di Desa Wisata Pulau Penyengat, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, dan berharap tradisi ini terus dilestarikan. Desa Wisata Pulau Penyengat masuk dalam 75 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023

Tradisi Tepuk Tepung Mawar merupakan upacara adat Melayu Riau peninggalan raja-raja terdahulu. Tradisi ini biasanya dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas terkabulnya satu keinginan atau usaha. Penaburan "Tepung Tawar" diiringi dengan doa dan lantunan ayat-ayat suci Alquran.

Menparekraf Sandiaga mengatakan bahwa "Tepung Tawar" merupakan salah satu tradisi adat khas Melayu dengan kearifan budaya yang tinggi dan dapat menjadi salah satu unggulan daya tarik wisata.

Baca Juga: Mahasiswa UGM, Schalke Anindya Putri Terpilih Jadi Mapres Terbaik Nasional 2023

Menparekraf melakukan prosesi ‘tepung tawar’ di Balai Adat Indra Perkasa yang merupakan salah satu bangunan peninggalan sejarah di Pulau Penyengat.

“Ini merupakan tradisi yang sangat sarat dengan kearifan budaya kita, dan ini harus terus kita lestarikan, dan karena itu mengandung banyak sekali dari doa yang baik, sampai juga dengan pantun, maupun gurindam,” kata Menparekraf Sandiaga pada Sabtu, 29 Juli 2023.

Menparekraf Sandiaga mengatakan tradisi prosesi ‘tepung tawar’ ini harus dilestarikan karena mengandung makna mendoakan keselamatan orang tersebut.

Baca Juga: Gelar Safety Hunting for Railfans, KAI Sosialisasikan Keselamatan Perjalanan Kereta Api

"Jadi ini harus kita pastikan dilestarikan yang merupakan bagian dari pada wisata edukasi," ujar Sandiaga.

Sekretaris Lembaga Adat Melayu Provinsi Kepulauan Riau sekaligus Ketua Dewan Masjid Penyengat, Raja Al Hafiz, menjelaskan bahwa ada sejumlah bahan untuk melakukan prosesi ‘tepung tawar’ ini.

Diantaranya beras kunyit, beras putih, beras bertih, dan air tepung tawar. Ada juga daun gandarusa, daun cuang-cuang, serta daun ribu-ribu.

Baca Juga: Serial Biopik Nike Ardilla Segera Beredar

“Jadi beras yang telah dicuci lalu dikasih serbuk kunyit, jadi beras kunyit. Ada juga padi yang digoreng, keluar seperti kembang, ada lagi air diberi beras sejuk lalu diramu. Maknanya itu memberikan doa, doa akan tamu selamat,” kata Raja Al Hafiz.

Al Hafiz menjelaskan bahan-bahan tersebut juga mengandung makna. Seperti, beras kunyit yang melambangkan agar diberikan kemurahan rezeki, beras putih melambangkan kesucian, air tepung tawar melambangkan penyejuk hati.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: Kemenparekraf.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X