TINEMU.COM- Dilahirkan di Malang pada tanggal 1 Januari 1958 dengan nama lengkap Emmanuel Herry Hertoto. Totok Tewel, demikian nama panggungnya, telah malang melintang dalam dunia musik, khususnya rock sejak lama. Sebelum identik dengan Elpamas dia sempat bergabung di Q-Red, Ogle Eyes dengan vokalis Micky Jaguar.
Dia juga banyak membantu mengisi gitar dalam proyek album rekaman sejumlah artis seperti Mel Shandy, Bangkit Sanjaya, Ikang Fawzi, Anggun C Sasmi, Yossie Lucky dan Metal Boyz. Selain gabung di Elpamas, gitaris ini juga memperkuat kelompok musik Swami, Dalbo, Sirkus Barock, dan memperkuat grup Kantata dalam sejumlah seri albumnya (album Takwa, Samsara, dan Revolvere) hingga pagelaran Kantata Barock.
Dia pernah dinobatkan gitaris terbaik - Festival Rock se-Indonesia versi Log Zhelebour, tahun 1984, 1985 dan 1986. Tak heran bila namanya kemudian tercatat sebagai salah satu gitaris rock terbaik Indonesia. Saat gabung di Swami atau Kantata Takwa, sosoknya lebih banyak "sembunyi" di balik bayang-bayang nama besar Iwan Fals, Sawung Jabo, Jockie Soeryoprayogo, dan Setiawan Djody.
Baca Juga: Kisah Cinta Bob Dylan - Joan Baez : Kandas Karena Beda Ideologi?
Di balik semua itu, Totok tetap membuktikan kemampuannya sebagai penata musik. Antara lain ketika dipercaya menggarap single hits lagu Bila Engkau Izinkan (Hengky Supit), Menangis (Franky Sahilatua), album Perahu Retak (Franky Sahilatua), Misteri Cinta dan Warning! Global Warning album solo Setiawan Djody.
Setelah cukup lama berkiprah di panggung rock, Toto punya obsesinya bikin album solo gitar yang baru terwujud 2018. Diproduksi oleh Pelampung Records, album Miberdhewen dirilis pada 19 April 2018.
Baca Juga: Ternyata Nama Asli Bob Dylan Tidak Ada Dylan-nya!
Menurut Totok, nama Miberdhewen yang berarti terbang sendiri dalam bahasa Indonesia, diambil karena seluruh lagu dalam album ini digubah serta permainan gitar,bas,drum, dilakukan semuanya seorang diri.
Miberdhewen berisikan tujuh buah lagu dalam format instrumental. Album ini tak sekadar menampilkan kecepatan nada-nada melengking ala lead gitar rock, melainkan juga harmoni di antara instrumen-instrumen musik di dalamnya. Toto juga tak ketinggalan menyelipkan kemolekan khas musik etnik Nusantara dan musik klasik di sini.
Tujuh lagu dalam Miberdhewen digarapnya sejak tahun 2006 sampai tahun 2007 dan mengalami mastering ulang pada Januari 2018 setelah dirinya tak lagi menjadi gitaris band pengiring Iwan Fals.**