temu-paran

ABAS Gelar Pameran Be Yourself #2 di 75 Gallery, 1-14 Des 2024

Kamis, 5 Desember 2024 | 23:27 WIB
Agus Budiyanto foto bersama anggota ABAS dalam pameran Be Yourself#2 di 75 Gallery

TINEMU.COM – Minggu sore itu menjelang ashar (1/12/2024) kerumunan kaum hawa memenuhi ruang dalam 75 Gallery di Jl. Mampang Prapatan Raya No.75 Jakarta Selatan12790.

Keramaian semakin tampak selepas pukul 15.30 WIB, saat mana acara dibuka dengan sambutan Agus Budiyanto, guru dan sekaligus pelukis yang telah menekuni lukisan cat air hampir setengah abad.

Agus Budiyanto di antaranya menyatakan “Dengan semakin banyaknya pelukis yang menekuni media cat air, saya berharap murid-murid terus tekun berkarya supaya bisa menjadi pelukis profesional.”

Pameran bertajuk Be Yourself #2 di 75 Gallery yang diikuti oleh 40 pelukis cat air anggota ABAS (Agus Budiyanto Aquarelle Studio) yang sebagian besar adalah wanita itu akan berlangsung dari tanggal 1 – 14 desember2024.

Setelah Bambang Asrini menyampaikan sambutan ke dua, pameran secara resmi dibuka oleh Quoriena Ginting, kolektor wastra Indonesia dan penulis buku Nusawastra Silang Budaya.

Dalam esai panjangnya di pengantar katalog, Bambang Asrini di antaranya memaparkan ”Tak heran, jika dalam pameran yang kesekian kalinya ini, Agus Budianto Abstrak Studio (ABAS), kembali mengulik kebersamaan sesama seniman cat air tentang eksistensi karakter cat air. Sebuah medium istimewa yang kali ini bersama mitra-mitranya berpameran di 75 Gallery, Jakarta.” 

Agus Budiyanto di dalam katalog itu mengungkapkan “salah besar menggunakan cat air dengan cara-cara seperti media lain, kekuatan cat air justru tidak dimiliki oleh media lain”

Agus Budiyanto foto bersama anggota ABAS dalam pameran Be Yourself#2 di 75 Gallery

Bambang Asrini melanjutkan dalam catatan esainya ; Ia menyatakan dengan jernih, bahwa kekhususan medium cat air inilah yang membentuk karakter-karakter berbeda yang menghasilkan karya yang menarik dalam topik dan menantang secara teknis.

Di sejarah klasik Cina, mau tak mau kita berhutang bagaimana tinta Cina dan cat air menyatu dalam seni, hidup, lukisan dan kasusastraan. Seniman Xie He, yang berkarya di abad ke-16, seorang sejarawan seni, kritikus seni, menulis "Enam prinsip seni lukis Tiongkok".

Ia menyampaikan juga pada para penulis-penulis lain, merespon gagasan dari "Catatan Klasifikasi Pelukis Tua" kririkus lainnya, bahwa sejak lama sekali cat air memiliki fundamen: Yang Pertama, tentang Resonansi Roh, atau vitalitas, yang bersandar pada aliran energi yang meliputi tema, karya, dan seniman.

Yang ke-dua, Metode Tulang, yakni metode menggunakan kuas, tidak hanya mengacu pada tekstur dan sapuan kuas, namun juga pada relasi erat antara tulisan tangan (kemampuan membuat kaligrafi) dan karakter diri. Sementara yang ke-3, Korespondensi dengan Objek, atau penggambaran bentuk, yang meliputi bentuk-bentuk dan garis.

Seterusnya adalah, Kemampuan Menulis/ Menggambarkan, yakni penerapan warna, termasuk lapisan, nilai, dan nada adalah yang ke-4. Sedangkan prinsip yang ke-5, yaitu Pembagian dan Perencanaan, atau penempatan dan penataan, sesuai dengan komposisi, ruang, dan kedalaman.

Yang terakhir, ke-6 adalah Penyalinan Model dalam Hidup, yakni peristiwa dan suasana tertentu menemukan objek yang dilukiskan dalam hidup, selain membaca ulang peristiwa-peristiwa bersejarah.

Dari penjabaran kriteria diatas, jauh sebelum seni modern diungkapkan oleh para maestro seni modern, lukisan klasik Cina telah memberi pondasi dan inspirasi tak habis-habisnya pada seni lukis Barat.

Halaman:

Tags

Terkini