TINEMU.COM - Apa hubungan antara Ustad, Jin, dan Pesantren? Jika menduga dan menghubungkan dengan beberapa kejadian tentang kasus-kasus pelecehan seksual, kekerasan, yang terungkap belakangan ini di beberapa pesantren, maka kita bisa segera menebaknya!
Jin atau hantu kerap digunakan sebagai alasan dan penyebab dari kejadian-kejadian yang melibatkan oknum-oknum pengajar di pesantren dalam kasus-kasus kejahatan dengan korban santri atau santriwatinya. Begitulah yang ingin digambarkan oleh film karya Ginanti Rona dari IDN Pictures berjudul "Qorin" ini.
Qorin secara pengertian adalah jin yang selalu mengikuti dan mendampingi setiap manusia. Tugasnya untuk menyesatkan dan menggoda manusia dari jalan Allah-nya. Dengan menjadikan Qorin sebagai kambing hitam dalam setiap kasus, oknum-oknum pengajar seolah punya jalan mulus untuk menghindari hukuman.
Baca Juga: MLBB World Esports Championship: Indonesia Berhasil Kalahkan Filipina
Adalah Yolanda (Aghniny Haque) dititipkan orangtuanya dari Jakarta untuk hidup lebih baik ke Pesantren Rodiatul Jannah. Sebagai santriwati baru, ia didampingi Zahra, murid berprestasi yang sudah lebih lama di pesanten tersebut.
Baru beberapa hari di sana, Yolanda menemui kejadian aneh yang seolah ditutupi para santriwati juga Zahra yang ditugaskan memandunya dalam salah satu pelajaran wajib di situ-ritual Qorin.
Yolanda merasa terisolasi dalam pesantren itu, apalagi pernah melihat temannya tampak ketakutan setelah berbincang dengan orang yang bukan penghuni pesantren. Yolanda dan Zahra akhirnya perlahan mencoba menguak misteri dalam pesantren itu apalagi ada beberapa santriwati yang sudah lebih lama di situ dikabarkan tewas atau tiba-tiba menghilang tanpa sebab.
Baca Juga: Sri Asih (2022), Beban dari Sebuah Kisah
Sebagai film horor, Qorin, mampu menawarkan ide cerita kontekstual. Kisah ustad yang selain memanfaatkan praktek pemanggil jin Qorin demi kepentingannya sendiri ditambah mencabuli santriwati yang kerap terdengar di sejumlah media massa dicoba dimasukkan dalam film ini.
Kemudian ide yang fokus dalam satu tempat yaitu sekolah berbasis pesantren jauh dari perkotaan, sesungguhnya sangat potensial menjadi kekuatan film ini.
Sayangnya karakter Ustad Jaelani (Omar Saleh) sebagai antagonis kurang digali sehingga alasannya “hanya kepingin punya banyak pengikut” kurang meyakinkan dengan tidak menampilkan adegan dia misalnya sedang memimpin acara pengajian biasa.
Baca Juga: Matah Bete, Sajikan Aneka Menu Dengan Cita Rasa Matah
Sosok Ustad Jaelani lebih tampak sebagai “kepala sekolah yang zalim”. Tapi mungkin karena rate film ini bukan kategori horor “dewasa” yang penuh adegan “gore” (berdarah)- sutradara dan tim kreatifnya dengan sangat terpaksa memilih “jalan aman” saja.
Tokoh lain yang mungkin dimaksudkan sebagai pembantu Ustad Jaelani, yaitu Malik (yang seharusnya bisa digali kenapa dia bisa kerja dan takut sekali dengan Ustad Jaelani di pesantren itu) akhirnya seperti ‘daripada nggak ada’.
Artikel Terkait
Video Musik Resmi dari The Rain: Kita dan Ketidakmungkinan, Ada Wafda Saifan, Naga, dan Natascha Germania
Igun Gandeng Desainer Lokal Unjuk Gigi di “Garis Poetih”
Sri Asih (2022), Beban dari Sebuah Kisah