Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (240)

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Selasa, 7 November 2023 | 09:00 WIB
Ilustrasi Cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)
Ilustrasi Cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)

TINEMU.COM -  Tiba-tiba pemuda she Pek tadi berkata, "Ciok-toako, kita ada untung dirasakan bersama, ada malang dipikul bersama."

Maklumlah, ayah pemuda she Pek itu adalah seorang tokoh yang ternama di dunia persilatan, di rumahnya dia sudah biasa disanjung puji, kini kena dihajar oleh Kok Ham-hi sudah tentu ia tidak rela dihina mentah-mentah. Ia pikir Ciok-si-sam-hiong meski bukan jago kelas satu, tapi kalau mereka bertiga mau membantunya mungkin akan mampu menandingi orang galak bermuka buruk ini.

Begitulah Kok Ham-hi lantas menanggapi, “Aku hanya ingin tanya sesuatu kepada Ciok-loji, tapi kalau kalian bermaksud menantang berkelahi padaku, maka akan kugunakan kesempatan ini untuk menghajar ada kepada kalian. Nah, majulah lekas tidak perlu banyak omong!”

Karena Kok Ham-hi telah menyatakan hendak menghajar adat kepada mereka, dalam keadaan kepepet terpaksa Ciok-si-sam-hiong menerima tantangan itu. Segera mereka berdiri sejajar, Ciok-lotoa lantas berkata, "Manusia punya muka, pohon punya kulit, saudara sesungguhnya terlalu menghina orang, memangnya kami bertiga lantas takut padamu. Namun kita selamanya tiada permusuhan apa-apa, bilamana kami kalah, bolehlah kau tanya apa yang kau kehendaki, sebaliknya kalau saudara kalah, kamipun takkan bikin susah padamu, hanya urusan kami hendaklah kau jangan ikut campur!”

Biarpun keras mulutnya, namun nadanya lemah dan hati sudah jeri. Kok Ham-hi bergelak tertawa, katanya, “Baik, baik! Kalian mengaku sebagai sam-hiong, aku justru ingin tahu apakah kalian benar-benar jagoan atau betina. Nah, mulai!”

Baru saja Kok Ham-hi mengucapkan “mulai”, berbareng ketiga saudara Ciok itu lantas menerjang maju. Tiga buah toya dan tiga buah gelang emas menghantam sekaligus ke arah Kok Ham-hi. Toya dan gelang adalah senjata khas yang dilatih dengan tekun dan selama ini digunakan Ciok-si¬sam-hiong untuk malang melintang di daerahnya. Tangan kiri gelang besar dan tangan kanan memegang toya, kedua macam senjata yang berbeda jauh itu dapat bekerja sama dengan rapat sekali, benar-benar sejenis ilmu silat yang lain daipada yang lain.

Melihat dua macam senjata yang aneh itu, mau tak mau Kok Ham-hi terkesiap juga, diam-diam ia waspada dan tidak berani meremehkan lawan. Sedangkan pemuda she Pek tadi juga tidak tinggal diam, bahkan ia lebih licik daripada Ciok-si-sam-hiong, Ketika Kok Ham-hi bicara tadi, diam-diam ia sudah siap siaga. Begitu Ciok-si-sam-hiong mulai bergerak, berbareng ia pun menggertak sambil menggeser kebelakang Kok Ham-hi dengn cepat, dengan jurus “Yu-liong-tam-jiau” (naga meluncur menjulur cakar), kelima jarinya yang mirip kaitan terus mencengkeram ke Tay-cui-hiat di punggung Kok Ham-hi. Hiat-to ini kalau sampai tercengkeram, betapapun lihai ilmu silatnyajuga akan lumpuh dan tidak bisa berkutik lagi.

Akan tetapi Kok Ham-hi tidak gampang kecundang begitu saja, ditengah samberan angin pukulan dan bayangan toya, tiba-tiba terdengar suara “blang” yang keras, Kok Ham-hi mendak ke bawah, peti obat yang digendongnya itu terus melayang satu putaran di atas kepala, tiga buah toya Ciok-si-sam-hiong kena mengemplang di atas peti obat sehingga peti itu hancur. Sedangkan cengkeraman pemuda she Pek tadi tampaknya sudah hampir kena sasarannya, tahu-tahu Kok Ham-hi mendak ke bawah sehingga cengkeramannya Cuma selisih beberapa senti saja. Dalam pada itu dengan cepat luar biasa Kok Ham-hi sudah membaliki sebelah tangannya terus menangkap pergelangan tangan lawan, mau tak mau pemuda she Pek melompat mundur kalau tidak mau tertawan.

Setelah peti obat pecah, pedang Kok Ham-hi yang tersimpan di dalam peti lantas jatuh ke lantai, sekali kaki Kok Ham-hi mencungkit, pedang itu mencelat ke atas dan tepat kena ditangkapnya, sebelum pedang dilolos dari sarungnya, segera ia gunakan dulu untuk menangkis ketiga toya lawan yang sementara itu sudah menyerang pula.

Sementara itu si pemuda she Pek sudah mengeluarkan senjatanya sejenis golok tebal, serunya, "Baiklah, akan kucoba lagi ilmu pedangmu!”

Rupanya ia sudah jeri terhadap ilmu pukulan Kok Ham-hi tadi, kini ia berharap dapat memperoleh kemenangan dalam hal ilmu goloknya yang sudah terlatih. Sudah tentu Kok Ham-hi tidak gentar, dengan tertawa ia lantas lolos pedangnya, sekali putar, seketika sinar perak gemerdep menyilaukan mata, Ciok-si-sam-hiong dan pemuda she Pek itu sama-sama mundur satu tindak karena merasakan sinar perak yang tajam itu.

Diam-diam pemuda she Pek itu rada mengkeret, sungguh tidak nyana ilmu pedang lawan juga sehebat ini. Lekas-lekas ia menggunakan kelincahan tubuhnya untuk berkelit, menubruk, lalu menggeser lagi ke samping, ia terus melompat ke sana sini, bila ada kesempatan baru balas menyerang, sedapat mungkin ia menghindari gebrakan langsung dengan Kok Ham-hi.

Ilmu golok pemuda she Pek disebut “Yu-sin-pat-kwa-to”, ilmu golok Pat-kwa, permainan ilmu golok ini mengutamakan kecepatan dan kegesitan. Sebenarnya ilmu pedang Kok Ham-hi juga terkenal gerak serangan yang aneh, tapi berturut-turut beberapa kali serangannya ternyata dapat dihindarkan pemuda itu. Diam-diam Kok Ham-hi berpikir harus ganti siasat, lebih dulu Ciok-si-sam-hiong dibereskan baru nanti melayani lagi pemuda she Pek itu. Sekali bersuit panjang, mendadak ia menerjang kearah Ciok-si-sam-hiong secara menbadai, tanpa menghiraukan lagi pemuda she Pek. Begitu keras serangan pedangnya sehingga beberapa bagian kekuatan Thian-lui-kang sudah tersalur ke ujung pedangnya, maka ketika golok si pemuda she Pek mencapai lingkaran sinar pedangnya lantas terguncang pergi.

Kok Ham-hi menambah tenaga dalamnya, gerak pedangnya dari cepat menjadi lambat, ujung pedang seakan-akan diganduli benda berat, sebentar menusuk kekanan dan lain saat menabas kesini, tampaknya tidak selihai permulaan, tapi kekuatannya bertambah lipat ganda, asal kebentur ujung pedangnya tentu tangan tergetar dan napas sesak.

Dengan tiga toya mereka, Ciok-si-sam-hiong bertahan dengan rapat, namun kerja sama mereka yang bagus itu ternyata tidak tahan oleh terjangan tenaga dalam Kok Ham-hi. Tidak antara lama ketiga saudara itu sudah mandi keringat dan napas terengah-engah. Melihat sudah tiba waktunya, sekonyong-konyong Kok Ham-hi membentak, “Kena!”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X