Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (242)

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Kamis, 9 November 2023 | 09:00 WIB
Ilustrasi Cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)
Ilustrasi Cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)

TINEMU.COM - Ciok-losam berhati lebih polos, katanya pula, “Betapapun harus kukatakan bahwa Oh-ciok Tojin sekali-kali pasti bukan orang yang suka merusak kaum wanita. Kalau terjadi apa-apa paling-paling ia hanya sebagai pelaku saja, tapi di belakangnya tentu ada biang keladinya. Terus terang, pribadi Oh-ciok paling tidak akan lebih baik daripada kami bertiga.”

“Tosu jahat itu masakah kau mintakan ampun baginya?” bentak Ciok-lotoa. “Adikku ini rada sembrono, harap Hiapsu (pendekar) maafkan dia.”

“Peduli amat dengan kalian, yang pasti biarpun jiwa imam keparat itu dapat kuampuni, sedikitnya ilmu silatnya juga akan kupunahkan,” kata Kok Ham-hi.

Melihat Kok Ham-hi bergegas mau pergi, dengan tergopoh-gopoh Seng-cengcu berkata, “Tuan yang perkasa, kuda pilihan buat engkau sudah tersedia, sebentar akan dituntun ke sini.”

Sembari berkata iapun memberi isyarat kepada seorang pembantunya. Segera pembantu itu maju ke depan dengan membawa senampan uang perak, katanya, “Majikan kami persembahkan sedikit tanda mata ini, mohon Tuan yang perkasa sudi menerimanya.”

Seketika mata Kok Ham-hi mendelik, ia bermaksud melemparkan hadiah yang lebih mirip uang sogok itu. Tapi segera timbul suatu pikiran dalam benaknya, katanya kemudian, “Baik juga, karena hartamu ini toh diperoleh secara tidak halal. Janganlah kau mengira dengan uangmu lantas kau dapat berbuat apapun juga sesuka hatimu. Yang pasti, bilamana kau tidak melaksanakan perintahku tadi, kelak aku pasti akan bikin perhitungan padamu.”

Melihat Kok Ham-hi mau menerima sumbangannya, Seng-cengcu merasa lega, cepat ia menyatakan pasti akan melaksanakan kehendak Kok Ham-hi tadi dalam waktu tiga hari. Tapi kemudian dia ternyata tidak pernah melakukannya sehingga kelak ia pun mendapat ganjarannya setelah Kok Ham-hi datang kembali dan mengusut perbuatannya itu.

Sementara itu kuda putih yang diminta Kok Ham-hi telah disiapkan, segera Kok Ham-hi mencemplak keatas kuda itu. Tapi sebelum dilarikan, tiba-tiba ia ingat sesuatu, ia menoleh dan bertanya kepada Ciok-losam, “Siapakah orang she Pek itu di mana tempat tinggalnya?”

“Dia bernama Pek Jiang-seng, ayahnya bernama Pek Ban-hiong, seorang bekas gembong Lok-lim yang kini cuci tangan alias pensiun, tempat tinggalnya di Pek-gui-teng di kota Jongciu. Pek Ban-hiong adalah saudara angkat Tun-ih Ciu, Tun-ih Cecu yang namanya termashur itu, dia...”

“Sudahlah, aku sudah tahu,” sela Kok Ham-hi tak sabar sambil melarikan kudanya secepat terbang ke depan.

Setelah Kok Ham-hi pergi barulah ketiga saudara she Ciok bertengkar sendiri, Ciok-lotoa menyalahkan Ciok-losam terlalu banyak omong, sebaliknya Ciok-losam anggap Ciok-lotoa tidak pantas menjual kawan dan mengolok-olok Oh-ciok tojin.

“Hm, kau tahu apa? Aku sengaja mengatur tipu mengadu domba ini dan hailnya tentu akan menguntungkan kita sendiri, kau goblok, tidak paham maksudku,” kata Ciok-lotoa.

“Ya, aku goblok, memangnya kau yang pintar!” jawab Ciok-losam dengan penasaran.

Segera Ciok-loji menengahi, katanya, “Masakah Samte masih tidak paham tujuan toako? Oh-ciok Tojin telah banyak merebut rejeki kita di kalangan Hek-to, kalau laki-laki bermuka buruk itu nanti ketemu dia dan saling genjot, tentu di antara mereka akan jatuh korban salah satu, bila laki-laki muka buruk itu mampus, hal ini sama dengan Oh-ciok Tojin telah membalaskan sakit hati kita. Sebaliknya kalau Oh-ciok Tojin yang mampus, hal inipun bermanfaat bagi kita. Hehehe, sekarang kau paham tidak?”

Otak Ciok-losam yang memang rada bebal itu melongo sejenak, kemudian barulah berseru, “Ha, pahamlah aku! Jadi kalian sengaja mengadu domba mereka agar mampus salah satu di antaranya, ini namanya pinjam golok membunuh musuh.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X