TINEMU.COM - Setelah minggat dari rumah Giam Wan berusaha mencari berita Kok Ham-hi ke-mana2 tempat, tanpa terasa tiga tahun telah lalu, seluruh kanglam telah dijelajahinya, tapi jejak Kok Ham-hi tetap tak diketemukan. Tiba-tiba ia teringat kepada cerita Kok Ham-hi bahwa pemuda ini adalah pengungsi dari daerah utara, bukan mustahil sekarang pemuda itu pulang kampung. Begitulah Giam Wan lantas menyeberangi Tiangkang mencari ke utara.
Tak terduga pada suatu hari ditengah perjalanan ia kepergok oleh Oh-ciok Tojin dan kena ditawan oleh tosu itu dengan menggunakan dupa pembius. Waktu Giam Wan sadar, ia merasa dirinya sudah terbaring di dalam sebuah kereta keledai. Dupa pembius Oh-ciokTojin itu mempunyai khasiat pelemas tulang dan mengendorkan otot, meski sudah sadar, namun Giam Wan merasa sekujur badan lemas lunglai, sedikitpun tak bertenaga, hanya badan terasa baik-baik saja, tiada sesuatu tanda yang merugikan, rada legalah hatinya. Tapi ia lantas mencaci-maki Oh-ciok Tojin, tekadnya sudah bulat, ada lebih baik terbunuh saja daripada nanti tersiksa dan ternoda badannya.
Tak tahunya Oh-ciokTojin ternyata tidak marah, ia membuka tirai kereta dan menyapa, ‘Oh, kiranya kau sudah mendusin?”
“Tosu keparat, kau hendak mengapakan diriku?” damprat Giam Wan.
“Ah, tidak apa-apa, aku hendak memberi makanan padamu, ini, dua buah bakpau,” sahut Oh-ciok dengan tertawa. “Kau sudah tidur seharian, kini tentu sudah lapar.”
Benar juga, setelah melemparkan dua potong bakpau, lalu Oh-ciok berpaling kedepan lagi, satu jaripun tidak menyentuhnya. Tercengang juga Giam Wan, makinya pula, “Tosu bangsat, mengapa kau tidak membunuh aku saja? Ketahuilah, ayahku adalah Cwan-say-tayhiap Giam Seng-to, putrinya tidak boleh sembarangan dihina orang. Kalau sekarang kau tidak bunuh aku, pada suatu hari kelak tentu aku yang akan membunuh dirimu.”
“Apa mau dikata, terpaksa harus kulakukan untuk membalas budi orang,” sahut Oh-ciok.
“Membalas budi orang? Jadi kau gunakan diriku untuk membalas budi? Siapakah orang yang kau maksudkan?” tanya Giam Wan.
“Tak dapat kuberitahukan,” sahut Oh-ciok. “Yang pasti, keselamatanmu dapat kujamin, tanggung orang itu takkan menodai kau.”
“Huh, kawanan bangsat macam Tosu busuk kau ini masakah punya maksud baik,” caci Giam Wan.
“Percaya atau tidak terserah kau. Tapi ingin kuperingatkan, jika kau mencaci maki lagi terpaksa akupun tidak sungkan-sungkan padamu. Setiap kali kau memaki, setiap kali kutempeleng kau!”
Hendak bunuh diri, senjatanya ternyata sudah dirampas, dalam keadaan lemas, sukar juga sekalipun ingin bunuh diri. Kalau Tosu itu benar-benar menempelengnya tentu tak bisa melawan. Terpaksa Giam Wan tak bersuara lagi. Ia ingin mencari kesempatan, bila nanti tenaga pulih sedikit barulah bikin perhitungan dengan Tosu itu. Begitulah ia lantas jemput bakpau yang dilemparkan oleh Oh-ciok tadi dan dimakan dengan lahapnya saking laparnya.
Habis makan dua potong bakpau itu, rasanya tenaga pulih sedikit. Tapi ketika ia mencoba mengerahkan tenaga dalam, tiba-tiba dada terasa sakit. Maka sadarlah kekuatan obat Tosu itu tidak dapat punah dalam waktu singkat, terpaksa ia harus bersabar. Tampaknya Oh-ciok memang cukup sopan padanya meski sikapnya dingin-dingin saja, tapi dengan demikian kedua pihak menjadi tenteram untuk sementara.
Setiap hari Oh-ciok memberikan makanan dan air minum kepada Giam Wan dengan sopan. Di waktu mengaso dan tidur selalu Oh¬ciok menyingkir jauh daripada si nona. Hari ini mereka telah sampai di suatu tempat yang jaraknya kira-kira seratus li dari Hui-liong-san, samar-samar puncak pegunungan yang tinggi itu sudah kelihatan dari jauh.
Hati Oh-ciok merasa lega, ia menggumam sendiri, “Syukurlah tinggal satu hari lagi saja sudah dapat mencapai tempat tujuan.”
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (235)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (236)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (237)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (238)