Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (258)

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Sabtu, 25 November 2023 | 09:00 WIB
Ilustrasi Cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)
Ilustrasi Cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)

TINEMU.COM - Begitulah Li Su-lam lantas membebaskan kedua Busu Mongol itu. Setiba di kaki gunung dan ketika hendak berpisah, mendadak Tubukan berkata, “Li-kongcu, ada suatu urusan yang perlu kukatakan padamu. Urusan ini maha penting, sebenarnya kami sudah bersumpah kepada Khan Agung untuk tidak membocorkan rahasia ini.”

“Jika begitu, sebaiknya jangan kau katakan saja,” ujar Li Su-lam.

“Tidak, Li-kongcu,” kata Tubukan. “Biarpun kami sudah bersumpah, tapi engkau terlalu baik kepada kami, jika tidak kami beritahukan padamu berarti kami tidak kenal budi kebaikanmu.”

“O, apakah barangkali urusan yang menyangkut diriku?” tanya Li Su-lam.

“Benar,” jawab Tubukan. “Ai, Li-kongcu benar-benar seorang yang terlalu baik hati. Tua bangka Pek Ban-hiong itu sebenarnya jangan kau lepaskan.”

“Sebab apa?” kata Li Su-lam. “Ketahuilah bahwa musuh besarmu justru berada di rumahnya,” tutur Tubukan.

“Kau maksudkan bangsat Sia It-tiong itu?” Li Su-lam menegas dengan girang tercampur kejut.

“Li-kongcu,” tutur Tubukan. “Tentang penderitaan ayahmu akibat dianiaya Sia It-tiong itu sedikit banyak pernah kami dengar. Tuan Putri pernah mohon kepada Pangeran keempat dan Khan Agung agar Sia It-tiong dihukum mati, Cuma sayang permohonannya tidak dikabulkan, sebaliknya Khan malah mempercayai dia dan memberi tugas penting padanya.”

Kiranya sesudah Jengis Khan wafat, Putri Minghui pernah menggugat dosa Sia It-tiong itu di hadapan Dulai yang waktu itu menjabat Mangkubumi, yaitu sebelum Ogotai dipilih menjadi Khan Agung yang baru. Waktu Minghui menggugat, Tubukan dan Subutai adalah jago-jago Kemah Emas, dengan sendirinya mereka berada di situ.

Li Su-lam rada heran mendengar cerita itu, katanya segera, “Jika demikian, jadi bangsat Sia It-tiong itu datang ke Tionggoan bersama-sama kalian? Bukankah dia menjabat wakil panglima besar sebagai pembantu pangeran Tin-kok, mengapa Khan memberi tugas lain padanya?”

“Begini,” tutur Subutai, “Khan kami ingin menarik beberapa tokoh-tokoh kangouw atau jago-jago Lok-lim bangsa Han untuk menjadi pembantu di sini bilamana pasukan Mongol kami mulai menyerbu ke sini. Untuk tugas mencari orang-orang demikian sudah tentu Sia It-tiong adalah pilihan yang paling cocok.”

“Hm, kiranya begitu,” jengek Li Su-lam.

“Memangnya Sia It-tiong adalah pengkhianat, pantas Khan kalian sengaja memperalat dia untuk mencari pengkhianat-pengkhianat yang lain.”

“Semula Sia It-tiong bermaksud sembunyi di kediaman Yang Thian-lui,” tutur Subutai pula. “Tapi khawatir diketahui lawan Yang Thian Lui, pula kurang leluasa tinggal di kotaraja Kim itu, kemudian Pek Ban-hiong yang dia datangi. Pek Ban-hiong memang sudah ada hubungan gelap dengan Yang Thian-lui sehingga Sia It-tiong juga sudah kenal dia, karena itu segala sesuatu berjalan dengan lancar. Kami berdua ditugaskan menjadi pembantu Sia It-tiong dengan tiga macam tugas, pertama kami harus mencari tahu jejak Putri Minghui; kedua, mencari jalan untuk membunuh kau, kalau engkau dapat ditawan kembali ke Mongol lebih-lebih diharapkan; ketiga, kami harus mengawasi gerak¬gerik Sia It-tiong. Sudah tentu tugas terakhir kami ini diluar tahu Sia It-tiong sendiri. Orang ini banyak tipu akalnya, hendaknya Li-kongcu hati-hati menghadapi dia.”

Li Su-lam mengucapkan banyak terimakasih atas keterangan kedua orang itu. Lalu bertanya, “Sekarang kalian akan terus pulang ke Mongol atau kembali ke rumah Pek Ban-hiong untuk bergabung dengan Sia It-tiong?”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X