TINEMU.COM - Selama hidup Lau Khing-koh tidak pernah didekap oleh lelaki, keruan ia menjadi malu dan tersipu-sipu, mendadak ia meronta sekuatnya hingga To Liong terdorong ke samping.
“Kau anggap diriku ini orang macam apa?” serunya. “Menjadi istrimu juga perlu menikah secara terang-terangan menuru adat, kalau kau hendak main paksa, betapapun tak bisa jadi.”
Sikap keras Lau Khing-koh ini sungguh di luar dugaan To Liong. Semula ia mengira dengan setengah halus dan setengah kasar tentu si nona juga akan setengah menolak dan setengah menurut.
Urusan kini sudah terlanjur, si nona tampaknya mulai curiga, tiada jalan lain kecuali “membikin beras jadi nasi” barulah si nona dapat dikendalikan, karena itu segera ia hendak main paksa.
Melihat sikap To Liong rada-rada beringas, cepat Lau Khing-koh melolos belati dan mengancam, “Jika kau paksa diriku biarlah aku mati di depanmu saja!”
“Jangan marah dulu, Khing-koh,” terpaksa To Liong main bujuk lagi. “Masakah aku berani paksa kau, memangnya kau tidak tahu betapa cintaku padamu, apakah kau tidak suka padaku?”
Dengan alis menegak Lau Khing-koh menjawab, “Jika kau benar2 cinta padaku, maka kau harus segera pergi dari sini, jangan anggap aku sebagai perempuan hina dina.”
Diam-diam Ci In-hong yang mengintip di luar itu memuji keteguhan iman nona Lau itu, cuma usianya terlalu muda sehingga kena dikelabui To Liong.
Diam-diam ia ambil keputusan bila To Liong berani menggunakan kekerasan terpaksa ia pun turun tangan menolongnya sekalipun harus menghadapi bahaya besar.
Dalam pada itu To Liong menjadi kikuk dan serba salah, apakaha mesti pakai kekerasan atau mundur teratur saja? Seketika ia menjadi ragu-ragu.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang memanggil, “To-kongcu, Lai-siya mengundang kau untuk bicara sesuatu.”
Lai-siya yang dimaksudkan terang Dulai adanya. Kesempatan ini segera digunakan To Liong untuk mundur teratur.
Katanya dengan suara lirih, “Khing-koh, harap jangan marah, perbuatanku tadi memang kurang pantas, tapi semuanya terdorong oleh cintaku kepadamu yang sangat. Baiklah, aku akan pergi dan surat itu hendaklah tulis!”
Dengan segera ia meninggalkan kamar Khing-koh, dalam hati ia tidak mengerti ada urusan apa malam-malam Dulai mencarinya.
Seperginya To Liong hati Khing-koh masih berdetak keras, sampai lama sekali ia tidak dapat tentramkan pikiran.
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (291)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (292)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (293)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (294)