TINEMU.COM - Tiba-tiba In-hong ingat sesuatu, cepat ia berkata, “Nanti dulu. Rumah ini selain pelayan si Kemala, apakah masih ada budak lain?”
“Ada seorang pesuruh laki-laki,” sahut Khing-koh.
“Apakah orang yang memanggil To Liong tadi?” In-hong menegas. “Aku tahu orang itu bukan pesuruh, dia adalah jago pengawas bangsa Han, anak buah Yang Thian-lui, Lai-siya yang dia sebut tadi adalah Dulai, pangeran keempat Mongol.”
Kembali Khing-koh terkesiap, katanya dengan tergagap, “Aku, aku tidak percaya! Apa yang kau katakan terlalu... terlalu mengerikan.”
“Kau tidak percaya? Baiklah akan kubuktikan semuanya supaya kau mau percaya. Sekarang kau boleh bersuara, pura-pura ketakutan dan memanggil si Kemala untuk memancing kedatangan pesuruh laki-laki yang kau katakan tadi.”
Walaupun masih sangsi, akhirnya Khing-koh menurut juga, segera ia berseru memanggil si Kemala dengan setengah menjerit, tanpa pura-pura suaranya ternyata sudah gemetar.
Benar juga, segera orang itu memburu datang dan bertanya, “Nona Lau, apakah ada sesuatu keperluan? Si Kemala sudah tidur.”
“Kau, kau masuk saja ke sini,” kata Khing-koh.
Ci In-hong sembunyi di balik pintu, begitu orang itu melangkah masuk, serentak In-hong membekuknya sambil membentak dengan suara tertahan, “Apakah kau masih kenal aku Ci In-hong? Jika ingin selamat lekas bicara terus terang.”
Orang itu cukup kenal kelihaian Ci In-hong ketika dahulu mereka kerja bersama di bawah Yang Thian-lui, keruan ia menjadi ketakutan, tapi sedapat mungkin ia berlagak tenang dan menjawab, “Ci In-hong, biar kau membinasakan diriku, kau sendiri tentu juga sukar lolos dari sini.”
“Kau tidak perlu khawatirkan diriku, yang penting kau harus pikirkan jiwamu sendiri,” ejek In-hong.
“Kau ingin kukatakan apa?” tanya orang itu.
“Coba katakan, bukankah kau ini jago pengawal istana Koksu kerajaan Kim? Kau sengaja ditugaskan menjaga disini oleh Yang Thian-lui bukan?” tanya In-hong.
“Aku hanya bekerja menurut perintah saja,” sahut orang itu. Kata-kata ini sama saja membenarkan pertanyaan In-hong.
“Nah, kau sudah dengar sendiri bukan, nona Lau?” kata In-hong.
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (290)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (291)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (292)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (293)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (294)