TINEMU.COM - “To Liong kenal aku punya Thian-lui-kang,” kata In-hong pula. “Dengan membunuh orang ini, selain memberi contoh kepada kaum pengkhianat lain, dapat pula membanu kau terhindar dari tuduhan. Kau boleh mengaku bahwa kau terancam olehku dan terpaksa membawa aku ke sini.”
Setelah mengatur segala sesuatu, baru saja In-hong hendak menyingkir agar mereka dapat tukar pakaian, tiba-tiba Khing-koh berkata, “Ci-toako, banyak terima kasih atas maksud baikmu, tapi aku takkan melarikan diri dari sini.”
In-hong tercengang.
“Kenapa?” tanyanya.
“Nona Lau, masakan kau tidak percaya keterangan kami dan masih tidak tega meninggalkan orang macam To Liong itu? “kata si Kemala tanpa pikir.
“Betapa benciku padanya, kalau bisa aku ingin makan dagingnya dan beset kulitnya,” kata Khing-koh dengan mengertak gigi.
“Habis kenapa engkau tidak mau melarikan diri?”tanya si Kemala.
“Laki-laki membalas dendam biarpun tunggu sepuluh tahun juga belum terlambat,” demikian Ci In-hong menyitir peribahasa.
“Nona Lau, hendaklah kau jangan bertindak secara gegabah.”
In-hong cukup berpengalaman dan dapat berpikir, lamat-lamat ia menduga Lau Khing-koh pasti ingin membunuh To Liong dengan tangan sendiri untuk melampiaskan dendam karena dirinya kena ditipu.
“Ci-toako,” jawab Khing-koh. “Kau salah duga. Memang aku bertekad akan membalas dendam, tapi saat ini aku masih belum dapat meninggalkan keparat ini.”
In-hong menjadi bingung, katanya, “Jika tidak ingin balas dendam sekarang, mengapa tidak pergi saja dari sini?”
“Tadi Ci-toako bilang kedatanganmu ini ada urusan lain pula, apakah dapat memberitahukan padaku tentang urusan itu?” tanya Khing-koh.
Hati In-hong tergerak, ia pikir jangan-jangan Si Nona telah mendengar kabar-kabar apa-apa dari To Liong.
Maka ia lantas memberitahukan terus terang maksudnya hendak menolong Li Su-lam.
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (291)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (292)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (293)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (294)