TINEMU.COM - Menghadapi kenyataan itu, Ci In-hong berdua menyadari cita-cita mereka hendak mengadakan pembersihan perguruan sendiri sukar terlaksana, terpaksa mereka harus bertempur mati-matian.
Begitu pula dengan Yang Thian-lui, diam-diam ia pun mengeluh dan khawatir kalau-kalau kedua pihak akan sama-sama celaka.
Melihat keadaan Ci In-hong berdua yang kewalahan itu, diam-diam Li Su-lam juga khawatir, ia sudah merencanakan, bila perlu terpaksa ia pun akan terjun ke kalangan pertempuran tanpa menghiraukan peraturan kangouw lagi.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Nyo Wan berseru, “Kebetulan sekali kedatangan kalian, Beng-cici, lekas kalian membantu Ci-toako!”
Kiranya saat itu Beng Bing-sia, To Hong dan Giam Wan baru berlari datang dari atas gunung.
Terkesiap juga Yang Thian-lui, ia benar-benar khawatir kalau pihak musuh main kerubut, segera ia menjengek, “Hm, bolehlah kalian maju pula. Memangnya aku sudah tidak berpikir untuk pergi dari sini dalam keadaan hidup, kebetulan aku dapat mencari beberapa teman ke liang kubur.”
“Yang Thian-lui!” teriak To Hong dengan penuh rasa dendam. “Kau telah membunuh ayahku, betapapun aku harus menuntut balas!”
“Ya, terhadap bangsat tua itu, peduli apa tentang peraturan kangouw segala, hantam saja dia!” kata Bing-sia.
“Tunggu sebentar, nona To,” cepat Ci In-hong berseru, “Nanti kalau kalah menang kami sudah jelas barulah silakan kau mengadakan perhitungan dengan bangsat tua ini. Bing-sia, urusan perguruan kami inipun hendaklah kau jangan ikut campur.”
Sebabnya In-hong tidak mau dibantu, pertama ia tidak ingin orang luar ikut campur dalam hal pembersihan perguruan sendiri; kedua, ia pun khawatir kalau nona itu cedera oeh pukulan Yang Thian-lui yang dahsyat.
Sebab itulah ia lebih suka mengadu jiwa dengan Yang Thian-lui, habis itu barulah To Hong turun tangan pada kesempatan yang baik nanti.
Selagi keadaan semakin tegang, tiba-tiba terdengar suara bentakan dua orang, “In-hong, Ham-hi, mundur kalian!”
Lalu sambungnya, "Yang Thian-lui, pentanglah matamu, lihatlah yang jelas siapa kami ini?”
Berbareng dengan lenyapnya suara itu, muncul pula dua orang tua.
Tidak kepalang kejut dan girang Ci In-hong dan Kok Ham-hi, sebab kedua orang tua ini tak lain tak bukan adalah guru mereka, Hoa Thian-hong dan Kheng Thian-kong.
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (325)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (326)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (327)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (328)