Film 'Agak Laen' Menghadirkan Horor sebagai Humor yang Tertunda

photo author
Khudori Husnan, Tinemu
- Selasa, 5 Maret 2024 | 10:26 WIB
Image tangkap layar dari google
Image tangkap layar dari google

TINEMU.COM - Film Agak Laen (Imajinary, 2024) yang menyajikan  komedi berbalut  horor, per tanggal 2 Maret 2024 (Kompas.com, 02/03/24), telah berhasil mengumpulkan  penonton sebanyak delapan juta penonton.

Film yang dibintangi  Bene Dion, Boris Bokir, Indra Jegel dan Oki Rengga ini sukses membuat khalayak pecinta film Indonesia menaruh perhatian pada film komedi dengan bumbu horor di sana-sini.

Catatan sederhana ini akan berusaha menelisik   sudut pandang teori humor/komedi untuk kemudian dijadikan perangkat untuk mengulik film Agak Laen.

Sekurang-kurangnya, terdapat empat sudut pandang teoritis tentang humor (Lih., Iddo Tavory,  2014), yang menjadi dasar bagi terciptanya sebuah komedi, pertama, humor adalah  sebuah permainan pada pola.

Maksudnya, humor beroperasi dengan menempatkan para aktor berada dalam  dua tegangan makna yaitu memahami manusia sebagai subyek dan  objek yang mekanis secara bersamaan.

Salah satu contok klasik penciptaan humor adalah saat ada seseorang yang terpeleset karena   kulit pisang. Sehelai kulit pisang ternyata mampu membuat tubuh seseorang  terpelanting, bahkan, bisa jadi  harkat dan martabat orang tersebut ikut  terpelanting  meski hanya untuk sesaat.

Baca Juga: Gus Baha dan Quraish Shihab Bicara Cara Merawat Ukhuwah Kebangsaan

Momen humor terjadi karena adanya ketegangan antara orang sebagai subyek dan orang sebagai obyek mekanis yang tak bisa terhindar dari kejatuhan karena kulit pisang. Humor tercipta karena  komibinasi  sejumlah unsur yang sebelumnya unsur-unsur tersebut dianggap tak berhubungan sama sekali;  unsur orang (sebagai subyek) yang sedang asyik berjalan,  mendadak terjatuh  karena kulit pisang (unsur orang sebagai objek mekanis).

Arthur Koestler meringkas unsur mendasar dari humor seperti di atas,  dengan sebutan “bisosiasi,” sebuah permainan pikiran yang mengkombinasikan berbagai elemen untuk menciptakan gagasan-gagasan atau ide-ide baru.

Kedua, humor tidak berpretensi memecahkan ketegangan-ketegangan melainkan berusaha  mempertahankan ketegangan-ketegangan tersebut. Momentum  orang terjatuh akan dibiarkan begitu saja tanpa  ada embel-embel tambahan seperti menyalahkan orang yang membuang kulit pisang sembarangan atau mengecam orang yang berjalan tidak dengan hati-hati.

 Ketiga, humor mengkomunikasikan kepada khalayak tentang sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan sosial. Ilustrasi orang terpeleset kulit pisang tidak bisa dipisahkan dari sebuah kondisi sosial masyarakat yang teledor dan sembarangan dalam membuang sampah.

Dengan kata lain, kelucuan atau lelucon disebut lelucon karena merupaka bagian tidak terpisahkan dari adanya ketegangan-ketegangan yang tidak terpecahkan, serta merupakan ekstraksi atau kondensasi makna dalam kehidupan sosial. Kejenakaan selalu terjalin dengan  cara  spesifik kita dalam mengalami kehidupan  sehari-hari.

Keempat, humor dapat ditempatkan pada sebuah spektrum yang dicapainya; karena lelucon-lelucon berhubungan dengan cara bagaimana kita mengalami kehidupan sehari-hari, maka lelucon-lelucon akan dapat dipahami pula oleh khalayak dalam skala yang jauh lebih luas, kendatipun, yang lain hanya akan memahaminya melalui cara sebatas mengetahui belaka.

Baca Juga: Layar Indonesiana Ajak Sineas Muda Berkompetisi Produksi Film Pendek Berkualitas

Balada Empat  Pemuda Batak Humoris

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X