TINEMU.COM - Film Agak Laen (Imajinary, 2024) yang menyajikan komedi berbalut horor, per tanggal 2 Maret 2024 (Kompas.com, 02/03/24), telah berhasil mengumpulkan penonton sebanyak delapan juta penonton.
Film yang dibintangi Bene Dion, Boris Bokir, Indra Jegel dan Oki Rengga ini sukses membuat khalayak pecinta film Indonesia menaruh perhatian pada film komedi dengan bumbu horor di sana-sini.
Catatan sederhana ini akan berusaha menelisik sudut pandang teori humor/komedi untuk kemudian dijadikan perangkat untuk mengulik film Agak Laen.
Sekurang-kurangnya, terdapat empat sudut pandang teoritis tentang humor (Lih., Iddo Tavory, 2014), yang menjadi dasar bagi terciptanya sebuah komedi, pertama, humor adalah sebuah permainan pada pola.
Maksudnya, humor beroperasi dengan menempatkan para aktor berada dalam dua tegangan makna yaitu memahami manusia sebagai subyek dan objek yang mekanis secara bersamaan.
Salah satu contok klasik penciptaan humor adalah saat ada seseorang yang terpeleset karena kulit pisang. Sehelai kulit pisang ternyata mampu membuat tubuh seseorang terpelanting, bahkan, bisa jadi harkat dan martabat orang tersebut ikut terpelanting meski hanya untuk sesaat.
Baca Juga: Gus Baha dan Quraish Shihab Bicara Cara Merawat Ukhuwah Kebangsaan
Momen humor terjadi karena adanya ketegangan antara orang sebagai subyek dan orang sebagai obyek mekanis yang tak bisa terhindar dari kejatuhan karena kulit pisang. Humor tercipta karena komibinasi sejumlah unsur yang sebelumnya unsur-unsur tersebut dianggap tak berhubungan sama sekali; unsur orang (sebagai subyek) yang sedang asyik berjalan, mendadak terjatuh karena kulit pisang (unsur orang sebagai objek mekanis).
Arthur Koestler meringkas unsur mendasar dari humor seperti di atas, dengan sebutan “bisosiasi,” sebuah permainan pikiran yang mengkombinasikan berbagai elemen untuk menciptakan gagasan-gagasan atau ide-ide baru.
Kedua, humor tidak berpretensi memecahkan ketegangan-ketegangan melainkan berusaha mempertahankan ketegangan-ketegangan tersebut. Momentum orang terjatuh akan dibiarkan begitu saja tanpa ada embel-embel tambahan seperti menyalahkan orang yang membuang kulit pisang sembarangan atau mengecam orang yang berjalan tidak dengan hati-hati.
Ketiga, humor mengkomunikasikan kepada khalayak tentang sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan sosial. Ilustrasi orang terpeleset kulit pisang tidak bisa dipisahkan dari sebuah kondisi sosial masyarakat yang teledor dan sembarangan dalam membuang sampah.
Dengan kata lain, kelucuan atau lelucon disebut lelucon karena merupaka bagian tidak terpisahkan dari adanya ketegangan-ketegangan yang tidak terpecahkan, serta merupakan ekstraksi atau kondensasi makna dalam kehidupan sosial. Kejenakaan selalu terjalin dengan cara spesifik kita dalam mengalami kehidupan sehari-hari.
Keempat, humor dapat ditempatkan pada sebuah spektrum yang dicapainya; karena lelucon-lelucon berhubungan dengan cara bagaimana kita mengalami kehidupan sehari-hari, maka lelucon-lelucon akan dapat dipahami pula oleh khalayak dalam skala yang jauh lebih luas, kendatipun, yang lain hanya akan memahaminya melalui cara sebatas mengetahui belaka.
Baca Juga: Layar Indonesiana Ajak Sineas Muda Berkompetisi Produksi Film Pendek Berkualitas
Balada Empat Pemuda Batak Humoris