Lima Kutipan Puisi Rumi yang Bikin Hidup Menyala

photo author
Khudori Husnan, Tinemu
- Rabu, 24 April 2024 | 22:05 WIB
Ilustrasi 5 kutipan puisi Rumi dibantu dengan AI
Ilustrasi 5 kutipan puisi Rumi dibantu dengan AI

TINEMU.COM - Rūmī ( 1207- 1273)  adalah mistikus dan penyair sufi terbesar dalam dunia Islam. Ia  termahsyur  karena lirik dan  karya epik didaktiknya, Masnawi , yang secara luas dan mendalam mempengaruhi pemikiran dan sastra mistis di seluruh dunia Muslim.  

Pada akhir abad ke-20, popularitasnya telah menjadi fenomena global, dengan puisi-puisinya mencapai sirkulasi luas di Eropa Barat dan Amerika Serikat.

Menurut scholar terkemuka yang mengkaji Rumi secara tekun, Annemarie Schimmel dalam buku  The  Triumphal Sun,  A Study of the Works of Jalaloddin Rumi (1980:XI) , “puisi-puisi Rumi selalu menghasilkan sesuatu yang baru di setiap pembacaan baru.”

Berikut ini adalah lima kutipan terkenal dari Rumi yang bisa memotivasi hidup Anda, sehingga menjadi lebih “menyala”

Baca Juga: Kereta Suite Class Compartment dan Luxury Laris Manis Saat Lebaran 2024

1. Everything That Is Made Beautiful And Fair and Lovely Is Made For The Eye Of One Who Sees (Segala Suatu Yang Indah dan Cantik dan Menawan Diciptakan Untuk Mata Yang Melihat)

Setiap sudut alam semesta sejatinya memiliki daya pikat menawan dengan caranya sendiri. Tidak ada tolok ukur atau standarisasi baku terhadap nilai keindahan. Mereka semua diciptakan dengan sama rata - manusia dengan beragam karunia diberikan fisik dan raga untuk melihat keindahan itu.

Rasa gatal gigitan nyamuk bisa begitu rupawan ketika mengingat bahwa reaksi tersebut adalah respon imun sebagai bentuk perlindungan bagi tubuh.

Sejatinya keindahan pada akhirnya dimiliki oleh mata yang tidak hanya sekedar melihat, namun mata yang memerhatikan dengan seksama. Mata yang memiliki pendengaran, peraba, dan penciuman.

Mata yang dimiliki oleh seseorang yang lebih rupawan daripada objek indah yang dilihatnya. Pada akhirnya pujian kecantikan yang dilontarkan akan menjadi nilai keindahan bagi sang pemuji.  

Baca Juga: Harta, Tahta, Raisa Siap Tayang 6 Juni 2024!

2. I Know You’re Tired But Come, This Is The Way (Saya Mengetahui Anda Lelah Tetapi Datanglah, Ini Adalah Jalannya)

Pada akhirnya lelah begitu menempel lekat dengan perjalanan perjuangan seorang insan di dunia. Tidak ada jalan lain kecuali mengarungi lautan kelelahan.

Kelelahan adalah satu-satunya jalan – satu-satunya tapak panjang yang wajib dilewati. Seperti bernafas dan menderita ialah satu kata yang memiliki ejaan berbeda, namun bermakna sama.

Tapi, apakah kelelahan memiliki konotasi negatif di mana dia eksis semata-mata untuk dirundung?

Atau sebuah pengingat bagi insan hidup yang mendambakan dibalik dan setelah keringat yang bercucur atau nanah yang melekat pada badan yang nyaris ditinggal jiwa sebab rasa kelelahan?

Kelelahan satu-satunya jalan – yang mungkin terjal namun lebih baik dari pada kebingungan akan tidak bergerak kemana-mana. 

Baca Juga: Inilah Lima Butir Arahan Wapres Ma'ruf Amin di Rakornas PB 2024

3. And So It Is, That Both The Devil And The Objects of Desire To Awaken Our Power Of Choice (Dan Begitulah, Baik Iblis Dan Objek Hasrat Membangkitkan Kekuatan Pilihan Kita)

Tidak ada yang istimewa dari kebaikan seorang malaikat yang hanya memiliki sisi baik di dalam jiwanya. Tidak ada yang buruk dari kejahatan yang dilakukan seorang iblis yang hanya memiliki sisi buruk di dalam jiwanya.

Mereka tidak memiliki kapasitas atau bahkan membayangkan rasanya menjadi jahat atau rasanya menjadi baik. Dan manusia dengan limpahan karunia memiliki pilihan akan baik dan buruk.

Merasakan yang baik dan buruk. Serta melakukan sebuah refleksi akan kejadian yang baik dan buruk. Apa yang lebih istimewa dari sebuah kapasitas untuk mampu menimbang beragam skala rasa asin dari sejumput, setengah sendok teh, satu sendok makam?


Halnya kejahatan, sedikitnya dapat membuat manusia merasakan tamparan, dan banyaknya bisa membuat manusia lebih jahat dari pada iblis yang diciptakan untuk menebar keburukan. 

Baca Juga: Huawei Ajak Pengembang Ciptakan Native Apps untuk HarmonyOS

4. It’s Your Road, And Yours Alone, Others May Walk It With You, But No One Can Walk It For You (Itu Jalanmu, Dan Jalanmu Sendiri, Orang Lain Mungkin Berjalan Bersamamu, Tapi Tidak Ada Yang Bisa Menjalaninya Untukmu)

Seorang dengan tongkat sebagai alat bantu bagi kakinya yang pincang mungkin bisa merasakan keringanan saat orang lain membantunya.

Tetapi di dalam tidurnya – ketika ia berbaring, beristirahat dalam malam – dirinya masih bisa merasakan rasa sakit itu menempel dalam sukmanya yang berharap seseorang bisa menggantikan nasibnya yang tidak ia terima.

Bantuan itu – ketika seseorang disampingnya untuk berjalan hanyalah sementara, penyejuk hati yang di dalamnya terdapat jam pasir yang siap habis. Hati diri akan semakin tidak bahagia, namun sebagai pengingat – mereka yang bisa berjalan normal juga sedang berjuang dalam jiwanya yang juga sama pincangnya.

Belum ada – dan tidak ada jalan lain selain mengingat bahwa setiap dari kita selalu berusaha untuk menjadi orang lain sampai dunia nyata membangunkan kita untuk berdiri di kaki sendiri...dan berjalan. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X