THE SHOWCASE Hadirkan Karya Kolaborasi Peserta Residensi Pemajuan Kebudayaan

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Senin, 2 September 2024 | 08:03 WIB
Karya kolaborasi peserta Residensi Pemajuan Kebudayaan tampil dalam pertunjukan THE SHOWCASE di Halaman Taman FatahillaH, Kota Tua, Jakarta. (Instagram Kemdikbud RI)
Karya kolaborasi peserta Residensi Pemajuan Kebudayaan tampil dalam pertunjukan THE SHOWCASE di Halaman Taman FatahillaH, Kota Tua, Jakarta. (Instagram Kemdikbud RI)

TINEMU.COM - Karya kolaborasi peserta Residensi Pemajuan Kebudayaan tampil dalam pertunjukan THE SHOWCASE pada 31 Agustus 2024 di Halaman Taman Fatahillah, Kawasan Kota Tua Jakarta.

Residensi Pemajuan Kebudayaan, program yang digagas oleh Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, menjadi wadah kolaborasi seniman lintas negara dalam berkreasi untuk turut memajukan kebudayaan Indonesia.

Sebanyak 18 peserta internasional yang berpartisipasi pada program ini telah menyelesaikan pelatihannya selama residensi, dan menghasilkan karya kolaborasi bersama 30 peserta nasional serta 23 peserta lokal di masing-masing lokasi pelaksanaan.

Baca Juga: Album Kedua Arash Buana Refleksi Diri di Usia 21 : Rilis 6 September

Di Pekanbaru, Provinsi Riau yang terbagi menjadi empat grup telah menghasilkan karya kolaborasi musikalisasi dari tradisi lisan melalui karya-karya musikal. Grup Satu menampilkan "UTOPIALLITY Vol. 1."

Karya ini merupakan karya musik elektro-akustik eksperimental yang merespon tradisi lisan dari cerita rakyat "Sibongsu dan Sicuriang" yang berasal dari Rokan Hulu, Riau, yang merepresentasikan kisah cinta sejoli yang penuh magis dan tragedi melalui komposisi musik yang menggabungkan unsur-unsur tradisi lisan setempat seperti Koba, Baandung, Badandong, dan Malalak.

Grup Dua menampilkan “The Sansuduong,” yang disajikan secara ansambel dan dimainkan dalam format electro-acoustic. Penggunaan soundscape dalam komposisi menekankan suasana yang beragam atas penghayatan alam di Kampar.

Baca Juga: Ardhito Pramono bentuk Wijaya 80 Lantunkan Spirit 1980-an

Basis skala/scale pada karya ini dipengaruhi oleh tradisi lisan Baghandu, Melalak dan Badondong. Grup Tiga menampilkan "Metaphysical Riverside" sebagai interpretasi terhadap keberagaman Sastra lisan di Kampar sebagai bagian dari spiritualitas masyarakatnya, hal ini terlampir pada Sastra Kuno Gurindam 12 pada Rangkap 7.

Adapun Grup Empat menampilkan “BONSU”, sebagai rekontruksi metode pengkaryaan dalam konteks pelindungan sastra atau upaya untuk menjaga, melestarikan, serta mempertahankan dan mengembangkan sastra agar tetap digunakan oleh masyarakat pemilik sastra sebagai warisan budaya.

Dalam proses pengkaryaannya berupaya membangun pengulangan yang terjadi dalam membentuk struktur musikal, yang terbagi dalam bentuk triologi.

Baca Juga: Alam Sutera Property Expo 2024, Rayakan Tiga Dekade Hadirkan Produk Hunian Idaman

Para peserta residensi yang berlokasi di Daerah Istimewa Yogyakarta telah menghasilkan karya kolaborasi yang merupakan pengembangan Olahraga Tradisional Jemparingan melalui karya Teatrikal yakni "Manah Jemparingan."

Selain itu melalui residensi ini juga digagas sebuah pameran yang mengangkat Jemparingan, "Pameran Olahraga dan Olahrasa."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: kemdikbud.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X