TINEMU.COM - Lebaran, hari indah milik anak-anak. Pada saat Lebaran, anak-anak bergembira gara-gara pertemuan, makanan, busana, uang, dan lain-lain. Kaum dewasa kadang terlalu cepat memberi nasihat atau batasan-batasan berakibat mengganggu kegirangan anak mengalami Lebaran.
Anak-anak ingin memastikan: Lebaran itu indah, menang, lezat, dan ramai.
Husein Muhammad dalam buku berjudul Merayakan Hari-Hari Indah Bersama Nabi (2017), mengingatkan: Lebaran itu hari indah. Pengertian disampaikan merujuk latar Indonesia: Lebaran itu bermakna dengan peristiwa mudik dan pertemuan.
Husein Muhammad mengungkapkan: “Menjaga silaturahim dapat ditempuh melalui banyak cara: mengucapkan salam, memberi hadiah, bicara santun, bersikap ramah, berbuat membantu kesulitan…. Yang terbaik adalah berkunjung dan bertemu muka.” Penjelasan berkaitan Lebaran. Orang-orang bertemu, berbicara, dan berdoa. Mereka pun makan bersama. Keindahan memang terasakan dalam kebersamaan.
Baca Juga: Anak, Lagu dan Lebaran
Pengertian itu “tertunda” saat kita membaca cerita pendek gubahan Sapardi Djoko Damono berjudul “Bingkisan Lebaran”. Cerita mengandung sedih meski menginginkan Lebaran itu indah.
Cerita mengenai janda dan anak tunggal bernama Mawar. Keinginan melakoni hidup mandiri dibuktikan dengan mencari nafkah dan mengurus pelbagai hal tanpa merepotkan pihak-pihak lain. Prinsip itu mula-mula dianggap “benar” meski dipaksa meralat setelah kejadian aneh.
Ibu dan anak tampak dalam situasi harmonis. Di keseharian, ibu sanggup menunaikan beragam pekerjaan di rumah dan mencari nafkah. Mawar berusaha patuh dan selaras mengikuti kemauan-kemauan ibu.
Mereka hidup dalam kondisi terbatas tapi memiliki kehormatan. Mereka tak mau mengemis atau menerima segala bentuk rasa kasihan dari pihak-pihak memberi perhatian.
Baca Juga: Grup Dream Pop Malang, Lucien Sunmoon Rilis Single Terbaru 'Castaway'
Semua berubah gara-gara Lebaran. Mawar menginginkan itu hari terindah. Ibu tak lekas paham dan memiliki alur berbeda dalam mengartikan Lebaran. Pada suatu hari, peristiwa aneh mengubah hidup mereka.
Sapardi Djoko Damono mengisahkan Mawar: “Beberapa menit ia duduk di teras, ibunya belum muncul juga. Ia diajar untuk tidak tergantung siapa pun. Apalagi kebanyakan rumah tetangganya sudah kosong ditinggal penghuninya yang pulang Lebaran ke kampung.”
Ibu pamit pergi sebentar tapi tak lekas pulang. Mawar sendirian dan harus menentukan sikap.
Kita lanjutkan: “Hari itu hari terakhir menjelang libur dan ibunya tidak punya rencana pergi ke mana-mana. ‘Kita simpan saja uang Lebaran untuk sekolah kamu,’ kata ibu kepada Mawar. ‘Untuk apa pulang kampung!”
Baca Juga: Element Melejit di Acara Shining of Ramadan, Grand Metropolitan Bekasi
Artikel Terkait
Uwais Al-Qarni: Sosok Sahabat Rasulullah yang Berbakti kepada Ibunya
Keteguhan dalam Bersandar kepada Allah: Meneladani Nasehat Ibnu Athaillah
Menemukan Hadirat Allah Melalui Kerendahan Hati dan Rasa Butuh
Ikhlas: Rahasia Antara Hamba dan Tuhannya
Cinta Dunia dan Kehilangan Akhirat: Pesan Mendalam Syekh Ibnu Athaillah