Periset BRIN Angkat Narasi Wayang Pengusir Setan di Forum Internasional

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Sabtu, 19 April 2025 | 08:15 WIB
Naskah kuno yang memuat narasi atau cerita tentang wayang. (brin.go.id)
Naskah kuno yang memuat narasi atau cerita tentang wayang. (brin.go.id)

TINEMU.COM - Periset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Agus Iswanto menelaah naskah kuno yang memuat narasi atau cerita tentang wayang, khususnya wayang ruwatan atau wayang pengusir setan.

Ia juga membahas transformasi sastra wayang dalam praktik nembang atau tradisi pembacaan naskah dan teater pada tradisi tersebut. Makna pengusiran setan atau ruwatan tersebut merupakan ritual untuk mengusir setan, atau nasib buruk yang dilambangkan oleh Kala atau Batara Kala.

Agus menyampaikan hal tersebut dalam webinar yang digelar Konsulat Jenderal Republik Indonesia dengan pusat pengendali kegiatan di New York dengan mengusung tema Wayang: Merayakan Tradisi, Makna, dan Transformasi pada Jumat (11/04/2025).

Baca Juga: Polres Priok-Ditlantas Polda Metro Berjibaku Atasi Macet Akibat Lonjakan Truk Peti Kemas

“Bagi masyarakat Madura di daerah Banyuwangi dan Jember, mereka menyebutnya rokat. Ruwat mirip dengan rokat. Sementara pada Jawa Tengah atau Yogyakarta menggunakan media wayang kulit,” jelasnya dikutip dari laman brin.go.id.

Kisah Batara Guru dan Batara Kala atau kisah ruwatan sebagaimana tertulis dalam naskah-naskah yang ditemukannya itu ditulis dengan tembang macapat, berbahasa Jawa dan aksara Pegon.

“Kami menemukannya pada masyarakat Madura di daerah Banyuwangi dan Jember. Saya kira ada sedikit perbedaan antara naskah-naskah ini dengan sastra pengusiran setan atau wayang yang umum dimainkan di Jawa Tengah dan Yogyakarta,” imbuhnya.

Baca Juga: Audio Jalinan Kisah dan Rasa dari Anggun Priambodo

Naskah-naskah tersebut, dalam budaya materialnya dibaca dengan cara dilafalkan pada ritual pengusiran setan. Naskah yang menampilkan kisah pewayangan tentang Batara Kala dan Batara Guru, secara tradisional diyakini dilafalkan sebagai elemen kunci dari ritual tersebut.

Sastra wayang, dijelaskannya terkait dua subjek, yaitu pengusiran setan melalui wayang, dan tentang wayang wong dan wayang topeng itu sendiri.

“Wayang wong sebagai sebutan untuk teater yang menampilkan aktor laki-laki dan kadang-kadang perempuan yang memainkan lakon wayang. Wayang wong berkembang di Jawa Tengah di lingkungan istana kerajaan dan bangsawan pada akhir abad 19,” urainya.

Baca Juga: Ervin Nanzabakri Rilis Single yang Terinspirasi dari Kesetiaan

Sedangkan Wayang Topeng, lanjut Agus, seperti Wayang Wong dipertunjukkan dalam seni teater yang menampilkan aktor laki-laki dan perempuan. Wayang dimainkan dengan menggunakan topeng. Tarian aktor bertopeng yang memainkan lakon wayang juga merupakan ekspresi dari teater Jawa.

“Adapun naskah wayang ruwatan dibacakan atau dinyanyikan oleh laki-laki yang disebut pemaos atau pemaca. Mereka menyebutnya tradisi mamaca atau mamacah. Selain itu, ada paneghes, yang berarti menafsirkan atau menjelaskan atau pama’na yang berarti memberi makna,” ujarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: brin.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X